Segala yang dikerjakan setengah hati, tidak perlu diperjuangkan lagi.

Suara Awan, Sebuah Pertemuan

dibandaneira:

image

Konser Kolaborasi :
Banda Neira, Gardika Gigih, dan Layur 

Tajuk :
“Suara Awan”

Turut bermusik bersama:
Alfian Emir Aditya (cello), Jeremia Kimoshabe (cello),
dan Suta Suma Pangekshi (biola)

Sabtu, 26 April 2014
Amphiteater Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis km 8,4 Tembi, Timbul Harjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Buka gerbang pukul 19.15, Konser pukul 20.00
Acara khusus undangan

Undangan bisa didapatkan mulai Sabtu 19 April 2014
di Tembi Rumah Budaya pada jam kerja (10.00-16.00)
Satu orang maksimal mengambil dua undangan
Kontak: 0878.394.111.92 (Forum Musik Tembi)

Penjelasan singkat:

Banda Neira, Gardika Gigih, dan Layur akan berkolaborasi menggabungkan warna musik yang mereka bawa dalam sebuah konser bertajuk “Suara Awan, Sebuah Pertemuan”. Konser ini menggabungkan kesederhanaan folk akustik Banda Neira dengan alunan piano Gardika Gigih serta nuansa elektronik pada musik Layur. Musik ketiganya akan dibuat lebih megah dengan tambahan string chamber Alfian, Jeremia, dan Suta. 

Konser kolaborasi ini dipicu oleh rasa saling kagum di antara Banda Neira, Gigih, dan Layur. Banda Neira mengagumi musik karya Gigih dan Layur, begitu juga sebaliknya. Awalnya, pertemuan ketiga musikus ini awalnya hanya terjadi di dunia maya. Di Soundcloud lebih tepatnya, situs di mana ketiganya mengunggah karya. Saling komentar di dunia maya akhirnya berkembang menjadi pertemuan tatap muka. Setelah beberapa kali bertemu di Yogyakarta, mereka sepakat mengadakan konser kolaborasi.

Rencananya ada 10 lagu yang akan dibawakan dalam Suara Awan. Dua lagu ciptaan Layur (Are You Awake?, Suara Awan), empat lagu ciptaan Gigih (Kereta Senja, Tenggelam, Hujan dan Pertemuan, I’ll Take You Home), dan empat lagu ciptaan Banda Neira (Hujan di Mimpi, Matahari Pagi, Derai-derai Cemara, Hal-hal yang Tak Kita Bicarakan).

Lagu-lagu yang dimainkan dalam konser kolaborasi akan terdengar sangat berbeda dengan yang selama ini diperdengarkan. Ketiganya mengubah aransemen lagu menjadikannya sesuatu yang baru. Ketiganya juga terbuka untuk ide-ide baru yang terlontar ketika latihan bersama sehingga struktur serta nuansa lagu bisa sama sekali berbeda dengan yang aslinya.

Karya-karya Gigih yang biasanya berupa komposisi instrumental akan terdengar berbeda dengan tambahan vokal dan lirik. Lagu-lagu Banda Neira yang biasanya dibuat hanya dengan satu gitar kopong dan satu xylophone akan terdengar lebih mewah dengan tambahan suara-suara dari Layur. Musik elektronik Layur pun akan jadi berbeda dengan sentuhan akustik, piano, dan iringan cello dan biola.

Profil Singkat :

Banda Neira
Banda Neira adalah grup musik yang dibentuk oleh jurnalis Tempo Ananda Badudu (26) dan pekerja sosial Rara Sekar Larasati (23). Mereka menyebut musiknya sebagai musik nelangsa riang. Nelangsa karena stelan mereka bermusik amat sederhana, terdiri dari dua vokal, satu gitar kopong, dan satu xylophone. Dan riang karena lagu-lagu yang mereka buat umumnya bernada gembira.

Sejak dibentuk pada Februari 2012 lalu, Banda Neira telah merilis satu album EP (Di Paruh Waktu-2012), dan satu album penuh (Berjalan Lebih Jauh-2013). Di bawah naungan label Sorge Records, mereka menggratiskan lagu yang mereka buat dan menyebarnya di Soundcloud.com/bandaneira.

Musik mereka bisa didengar di sini
Informasi Banda Neira bisa didapat di sini

Twit band dan personel:
@dibandaneira
@anandabadudu
@rarasekar

Gardika Gigih
Gardika Gigih adalah komponis dan pianis muda jebolan Institut Seni Indonesia (ISI). Pemuda 23 tahun mulai jadi pembicaraan setelah ia menggelar konser Train Music pada November 2012. Gigih memimpin orkestra memainkan karya-karya yang ia bikin, di antaranya Keretamu Berlalu dan Hujan Pun Turun, Hujan dan Pertemuan, dan Perjalanan Pulang.

Karya-karya Gigih beberapa kali dimainkan di luar negeri. Seperti komposisi berjudul Kampung Halaman, pada 2011 dipentaskan di Yokohama, Jepang, oleh pianis Makoto Nomura. Pada 2012, karya Night at My Homeland yang ditulis Gigih dipentaskan Cultural Community Center Krakow, Polandia.

Musik Gigih bisa didengar di sini
Info tentang Gigih bisa dilihar di sini
Twit: @musikgigih

Layur
Layur adalah nama panggung Febrian Mohammad (25). Modal utama alumnus jurusan Akuntansi UII Yogyakarta bermusik ini adalah laptop dan program Fruity Loops. Yang istimewa adalah eksplorasi suara dan musik yang dilakukan Layur lewat laptop itu.

Karyanya banyak menuai pujian karena membawa musik Fruity Loop ke level yang belum pernah dicapai musikus lainnya. Ia menjadikan musik elektronik berjiwa. Bukan sekadar membuat repetisi bit dan loop semata. Pada 2013, label Totokoko dari Jepang merilis karya-karya Layur. Ada tujuh lagu dalam EP bertajuk Self Titled tersebut, di antaranya Sepotong Kecil, The Morning Hills, dan Sway.

Karya Layur bisa didengar di sini
Twit: @patigenie

Profil String Chamber:

Alfian Aditya dan Jeremia Kimoshabe:
Cellist Alfian dan Jeremia membentuk duo bernama Bad Cellist. Duo yang dibentuk pada Desember 2012 ini bermusik hanya dengan dua cello. Penguasaan teknik yang luar biasa hebat membuat mereka leluasa mengeksplorasi jenis musik apapun dengan instrument cello. Bad Cellist pernah tampil di Ngayogyajazz pada 2013 lalu. Dalam waktu dekat mereka akan merilis sebuah single

Musik alfian bisa didengar di sini
twit:
@alfianaditya
@kimo_cellist

Suta Suma Pangekshi
Suta Suma adalah pemain biola muda yang saat ini masih studi di Jurusan Musik ISI Yogyakarta. Ia sering bergabung dengan berbagai orkestra di Indonesia, seperti Sa’Unine String Orchestra, Gita Bahana Nusantara, dan masih banyak lagi.

twit:
@suta_suma

Pendukung Acara :
Tembi Rumah Budaya
Forum Musik Tembi
Koperasi Keluarga Besar Mahasiswa (KKBM) Unpar
Sorge Magazine
Sorge Sindikasi
Sorge Records
Studio Mahati
Forum Film Dokumenter
Art Music Today

Kak Rara bagus deh blog postnya yang terakhir. Mau nanya donk kak tentang hubungan kak Rara dengan kak Ben, apa yang bikin kak Rara tertarik sama kak Ben? Dan setelah lama sama kak Ben menurut kakak, seperti yang kakak tulis di blog kakak, what makes kak Ben tick? what makes him burn?

Setiap ada pertanyaan yang kaya gini aku selalu mikir ini pasti Ben yang nanya nih. Haha. Tapi boleh, kali ini aku ingin jawab.

Untukku, yang membuat Ben menarik adalah ya itu, the things that make him tick, the things that make him burn. Keingintahuannya yang tinggi untuk mengerti hidup adalah yang membuat hubunganku dan Ben ga seperti pacaran pada umumnya (ngasih kado boneka pas Valentine’s day, merayakan monthversary? atau berlomba-lomba untuk ngasih kejutan pas ulang tahun) tapi lebih seperti perjalanan bersama buat mengerti hidup lebih lagi. Aku pun punya rasa ingin tahu yang sama, walau mungkin ga selalu di hal-hal yang persis sama. Tapi itulah yang justru bikin seru, kadang kita bisa saling mengisi, kadang juga ada perbedaan yang berakhir jadi sebuah diskusi.

Kalau pacaran kita itu kaya gimana ya? Mungkin, ibarat dua anak kecil yang tenggelam di sebuah perpustakaan, ga sabar ingin baca semua buku yang ada supaya bisa lebih mencari, membaca dan mengerti tentang segala yang ada. Hehe, ya.. mungkin seperti itu kali ya.

Hal lainnya adalah Ben is a kind of person who lives life to the fullest. He would not mind being broke for a couple of months just so that he could go on a backpacking trip to the Southern Island, he wouldn’t mind using his last dollars on a really delish ice cream or an original Deluxe Edition CD of Beirut, he would not mind spending heaps of money on a complete collection of Edvard Munch’s paintings just so that he could gaze at each painting for hours, every single day. He would not mind working his ass off just to buy a rangefinder camera for his girlfriend’s birthday or his brother’s birthday.

But on top of all, he is the kind of person who would not mind spending most of his time reading under a tree, writing at a quiet coffee shop, and taking abstract photos of the streets and say, dear world, here’s the thing, I don’t wanna be stuck in a job I hate or in a daily routine that sucks big time, better I have a short life that is full of what I like doing, than a long life spent in a miserable way. Itulah Ben :D

Terakhir, selain selera humor, musik dan seni yang cocok, Ben writes one of the most beautiful and honest writings in the world (I’m his secret fan ever since I found his blog) and I just fall so easily for great writers like him hahaha.

To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other and to feel. That is the purpose of life.

The Secret Life of Walter Mitty

Now I see the secret of making the best person:
it is to grow in the open air,
and to eat and sleep with the earth.

Walt Whitman

Untuk 2013

2013 adalah tahun yang luar bisa berkesan buatku. Ga tau lagi harus deskripsiin gimana saking berkesannya. Maka dari itu rasanya dosa besar kalau aku ga mengabadikan 2013 dalam bentuk tulisan singkat (kayanya bakal panjang deng), supaya nanti kalau udah tua bisa mengingat kembali segala yang terjadi selama setahun silam. Yuhu. Mari kita mulai:

Pekerjaanku

image

Tahun 2013, aku akhirnya mengambil keputusan untuk menetap di Ubud, setidaknya sampai 2014. Kenapa? Aku juga kurang tau sih. Hahaha. Semesta sepertinya berkehendak demikian dengan segala misterinya, aku tiba-tiba memutuskan untuk tinggal. Tapi ga pernah terlintas rasa menyesal dalam diri aku mengambil keputusan itu. Selama setahun ini, aku merasa berkembang banyak banget dalam pekerjaan. Contoh, walau rada ga penting sih yang ini haha, awal kerja di lapangan, masih sering dipanggil “Dik”, lalu berkembang menjadi “Mbak”, lalu sekarang lebih sering dipanggil “Ibu” (kadang Bang juga sih karena efek rambut). Luar biasa, apa jangan-jangan mukaku yang menua ya? Haha. Berharapnya sih ini pengaruh dari aura kedewasaan… asik, terutama pas membawakan pidato-pidato depan Pak Camat dan Kepala Desa. Haha, duh mimpi apa bisa kerja kaya gini ya..

Setelah 1,5 tahun kerja, tempat kerjaku juga mempercayakan aku untuk memimpin satu projek sendiri. Projeknya besar banget, kampanye air bersih untuk 160 sekolah se-Indonesia. Kadang aku heran dengan bos-bosku ini yang bisa-bisanya mempercayakan projek-projek besar ke project officer muda seperti aku, tapi dari pengalaman seperti ini, ditambah dibimbing dengan project officer senior di kantor, kita emang jadi cepet banget berkembang, berani bertanggung jawab dan selalu berusaha yang terbaik untuk projek yang kita pegang. Kuncinya adalah melihat potensi, percaya dan selalu dukung. I really have the best bosses in the world! :)

Selain projek kampanye air bersih, aku juga bertanggung jawab di beberapa projek lainnya, super serunya aku jadi berkesempatan untuk keliling Indonesia. Walaupun kunjungannya dalam konteks kerja, tetep kejutan banget. Siapa sangka aku bisa tiba-tiba terdampar di Aceh pake hijab merah dengan poni sedikit nongol, minggu depannya di Padang Pariaman lagi keliling sekolah-sekolah ngecekin sumber air sekolah, lalu tiba-tiba 2 minggu tinggal di pedalaman Bojonegoro kerja bareng ibu-ibu koperasi bahas cicilan dan literasi finansial, besoknya naik 4-wheel-drive ke daerah Bali timur mengunjungi desa yang terisolasi. Gilaa, seru seru seru. Cape? Juga sih.

Kadang jadwal field visit bisa kurang ajar, beruntutan tanpa jeda. Belum lagi kalau kerja di lapangan itu (walau kalau di instagram cuma tampak yang bahagia-bahagianya aja #fotosenja #pemandangangunung #ondutytapikayafotoliburan haha) kita kerja ga ada jam kerja, dari jam 6 pagi sampe jam 12 malem bisa masih kerja. Karena kadang harus nunggu kelompok dampingan yang baru selesai nyawah malam hari, atau nunggu seharian di kantor kepala desa yang angkuh, atau pagi buta udah harus jalan karena desa berikut jaraknya cukup jauh. Dinamika lapangan memang menarik.

Walau begitu, rewardnya lebih dari apapun. Ini yang mungkin ga bisa terbeli dengan uang atau posisi tinggi sekalipun. Dari perjalanan dan kunjungan ini aku dapet banyak inspirasi hidup. Baik dari orang-orang yang aku temui, dari observasi pribadi, bahkan perjalanan itu sendiri.

Bertemu dengan ibu guru hamil yang berjuang tiap harinya naik motor 2 jam melalui jalan yang naik turun dan rusak setiap harinya, hanya untuk mengajar di SD di desa Sungai Pisang, Padang, ngobrol bareng pemuda-pemuda di Dusun Sudu, Bojonegoro yang berusaha memajukan pemuda melalui radio karang taruna, curhat bareng seorang guru PAUD yang menggunakan penghasilannya dari usaha teknologi tepat guna untuk membiayai kuliah sampingannya di Universitas Terbuka, Lhoksukon, Aceh. Mereka semua ga berhenti meningatkan aku untuk selalu tanamkan kaki di bumi, bahwa dunia begitu indah karena mereka yang mulia hatinya. Nulis kalimat inipun aku merinding, walau pertemuan itu kini jadi kenangan, mereka selalu hidup dalam hatiku, menjadi semangat untuk selalu memberikan yang terbaik, segenap hati dalam bekerja. Terima kasih.

2013 juga penuh dengan perpisahan. Aku kehilangan banyak sahabat-sahabat dekatku yang memutuskan untuk meninggalkan Ubud lebih dulu. Sekarang aku sering merasa sendiri kehilangan mereka sebenernya.. Belum lagi Ubud itu emang pada dasarnya sepi. Tapi beginilah hidup, ya ga sih? Perpisahan harus ada, perubahan tidak bisa kita hindari, melainkan harus kita hadapi dan terima apa adanya. Tapi diam-diam aku selalu berdoa mereka diberkati Semesta selalu dalam memulai kehidupan baru di kota baru. Kebahagiaan teman-teman adalah kebahagiaanku juga :)

Terakhir, aku juga menyadari, bahwa fisik harus selalu sehat untuk bisa kerja optimal. Jadwal field visit yang menggila bisa mengalahkan fisik yang ringkih ini. Jarang olahraga sedikit aja langsung tepar kaya babon. 3 minggu aku jatuh sakit, dalam keadaan kerja lapangan di Sumatera. 3 hari ga bisa keluar kamar (kamar orang pula, ga enak banget) dan sisanya kerja dalam keadaan sakit. Ampun, ga ga lagi men. Tahun 2014 pokonya kudu fit dan super healthy macam Nadya Hutagalung. Mari kita mulai dengan posting foto jus ditempel di muka di instagram. Haha..

image

Ada apa dengan Ubud

image

Ubud itu sepi. Salah, Desa Sayan itu sepi. Ubud sih udah mulai rame. Tempatku tinggal ga banyak keriaan. Kalau di atas jam 6 sore, jalanan udah mulai sepi. Tempat jual makanan mulai tutup dan toko-toko udah pada tutup semua. Sepi inilah yang sering memberikan waktu sendiri, salah satu waktu yang sering kita coba untuk hindari. Menghadapi diri sendiri dengan segala kekacauannya. Haha. Maka banyak momen kontemplatif muncul di Sayan ini, momen-momen yang bikin gila, karena saking seringnya. Hidup di Sayan itu seperti meditasi yang berkepanjangan. Memang harus hati-hati dengan keinginan, aku dulu pernah mimpi tinggal di Ubud, dan ketika kesampaian, edan, ampun ah. Haha.

Aku sering banget dibentur dengan pertanyaan, “What do I want in life?”, yang lama-lama bertransformasi menjadi “What do I really want in life?”. Pertanyaan yang bikin pening sampe ke tulang rusuk, gimanapun caranya itu. Pekerjaan, tujuan hidup hari ini, hari esok, aku ini siapa dan kenapa ada di sini? Sial, semua hanya karena sepi dan sendiri. Untuk yang ingin punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti di atas, boleh sini gabung ke Sayan, kita pusing bareng yuk. Hahaha.

Berbulan-bulan aku mengalami krisis dalam diri ini. Dicampur lelah karena kerja yang tiada henti dan jadwal traveling yang gokil. Mungkin hal-hal seperti ini lagi-lagi ga pernah muncul di linimasa twitterku, untuk apa juga sih aku pikir di-share? Toh jawabannya ada dalam diri, seharusnya. Tapi ga nemu-nemu, sial. Haha. Ga pernah ada juga di instagram, karena sulit membahasakan perasaan ini melalui foto. Soalnya waktu-waktu sendiri seperti ini seringnya kita lagi jauh dari media sosial, kamera, bahkan kertas dan pulpen. Hanya kita dan ombak-ombak pikiran yang tak hentinya berdebur. Serem, siap tenggelam.

Mungkin aku aja sih yang lebay, tapi bagaimanapun, Sayan sungguh berkesan. Karena udah buatku berpikir melampaui diri. Syukur, di akhir 2013, aku menemukan beberapa jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Jadi, terima kasih aku lebih mengenal diriku, semua berkatmu Sayan, ayam-ayam yang ga bisa berhenti berkokok kalau aku lagi mau rekam lagu di soundcloud dan 2 babi besar di sebrang kamarku.

Yang membuat Ubud juga sepi adalah jarangnya acara komunitas anak muda Indonesia (bukan bule hippie) dan kurangnya gig indie yang bukan acara chanting atau yoga keroyokan. Haha, ya memang pada dasarnya Ubud ga dibentuk untuk memenuhi kebutuhan seni anak urban sepertiku. *anak urban cuy* haha, jadi kalau yang ini, harus aku terima aja. Setidaknya, di Ubud ga ada macet, jaranglah bisa dibilang, dan aku bersyukur setengah mati untuk itu.

image

Banda Neira

image

Di awal 2013, Banda Neira, duo ngaco yang tampil di Sorge genjrang-genjreng dan Sorge edisi Sulit B.A.B. merilis album beneran. Gila, mimpi apa sih aku selama 23 tahun hidup? Haha, tiba-tiba koperasi kampus UNPAR mau dukung kegiatan iseng kita dengan mencetak album fisik. Kemeninggalan. Rasanya mau lompat dari tebing setinggi 20 meter pas tau ada kesempatan kaya gini saking senengnya. Setelah rilis dengan bantuan temen-temen KKBM, dilanjutkan dengan pesta rilis di Bandung dan Jakarta yang bisa dibilang pesta neraka. Neraka soalnya saking sumpeknya bisa bikin anak orang mati. Haha, aduh jadi merasa bersalah.

Semua karena kita itu ngiranya ya paling yang dateng keluarga dan teman-teman, sedikit temannya teman, jadi tempat kapasitas 50-70 orang cukuplah ya? Gataunya yang dateng lebih dari seharusnya, sehingga terjadilah kesumpekan yang luar biasa sampai susah nafas, atau aku sebut sauna indie. Meskipun gitu, melayanglah hati ini pas tau ada yang dengar dan suka Banda Neira. Ini jujur dari hati terdalam, semua yang terjadi hingga saat ini aku selalu liat sebagai kejutan, selalu bikin senyum-senyum sendiri, dan tidur sumringah sambil meluk gulingku yang aku punya sejak umur 6 tahun.

Banda Neira juga berkesempatan manggung di beberapa acara selama 2013, mulai dari acara komunitas di Bali, TEDx Brunch di Ubud, sekedar menghibur di rumah sakit, acara pensi di Jogja, acara festival makanan di Bandung, sampai merayakan Hari Ibu di Lapas Wanita.

Kita juga diundang main di Joyland Festival, gig super indie di Jakarta, dengan line-up yang bikin mati suri di taman. Pas dapet undangan, aku sama Nanda sempet ragu, gelo emang kita mampu? Emang kita sepadan? Coba pikir ulang yuk. Haha..

Di tahun 2013 aku juga jadi percaya bahwa hal-hal yang kita impikan diam-diam itu bisa menjadi nyata. Diawali dengan sebuah telepon dari Bang Meng vokalis Float, band kesukaanku sejak SMA. Di teleponnya tiba-tiba doi ngajakin Banda Neira main bareng di Float2Nature. Edan, lemes kaki. Hati seperti pecah, kepala denyut-denyut. Lagi-lagi, mimpi yang diam-diam ini kok bisa sampai ke yang diimpikan? Main bareng Float? Di alam pula? Pingsan berjamaah, al fatihah. 

image

Siapa juga sangka, ternyata selama di Float2Nature, Banda Neira semobil setenda dan juga sepanggung bareng Payung Teduh. Payung Teduh setauku adalah band kesukaanku yang selalu aku mainkan setiap hari pk. 17.00 waktu masih kerja di KontraS, untuk menenangkan pikiran. Lagunya aku sering mainin dari laptop tanpa headset supaya satu kantor denger haha, alhasil satu kantor jadi demen banget sama Payung Teduh. Diam-diam setiap malam aku juga selalu dengerin “Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan” sampai aku tidur. Kebiasaan ini terjadi selama beberapa bulan. Dan tiba-tiba di Tanakita, aku setenda bareng mereka, kenal lebih deket, trekking bareng ke curug, dan berlanjut sampai ke airport bareng, sarapan di airport bareng. 2013 ini sungguh gila, aku ga boong, sumpah :D

Selain Float dan Payung Teduh, aku juga punya pengalaman yang bikin terbang bareng Dialog Dini Hari. Pertama aku dengar musik mereka di youtube, lagunya adalah Nyanyian Langit versi akustik. Denger sekali, aku puter, pasang on repeat dan mencoba nyanyi-nyanyi humming mengisi jeda di antara vokalnya Mas Dadang, sambil dalam hati berandai, mungkin ga ya suatu hari kolaborasi bareng mereka? Ah mimpi apa itu, penyanyi juga bukan (waktu itu belum ada Banda Neira, cuma Rara Sekar si penyanyi di kamar mandi – masih sampai sekarang). 

Tiba-tiba, doa itu terkabul di 2013. Di acara pembukaan Ubud Writers & Readers Festival, aku diundang untuk kolaborasi bareng Dialog Dini Hari dan boleh pilih lagu sendiri, aku tanpa ragu langsung pilih Nyanyian Langit. Setelah main, aku bingung. Ini mimpi atau beneran? <3

Tahun 2013 aku juga diberi jalan oleh Semesta nonton Suarasama 2x live, satu di Jakarta, satu lagi Bentara Budaya Bali. Setelah penampilan di Bali, aku sempet ngobrol sama Mba Ritha, ngobrol tentang perkembangan musik tradisi di Indonesia, tentang musik indie, tentang industri musik yang terlalu kapitalis, dan diakhiri oleh ajakan, kalau lagi di Medan main-main aja ke rumah Suarasama. Aku minta nomor hapenya, aku kasih CD Banda Neira, tanpa harapan apa-apa sih, kalaupun dijadiin alas vas bungapun gapapa banget. Yang penting kenalan sama Mba Ritha dan Bang Irwan.

November 2013, entah gimana caranya, tiba-tiba aku harus transit di Medan pas ada kunjungan lapangan ke Aceh. Hal pertama yang terpikir, selain ketemu sahabat lamaku Gya, adalah mengunjungi rumah Suarasama. Aku iseng sms Mba Ritha, berharap masih inget. Ternyata masih inget, dan janjianlah kita untuk ketemu malemnya di rumah. Sampai di sana, kita ngobrol panjang tentang… banyak banget, aku rekam semua pembicaraan kita yang sampai 3 jam lamanya. Diskusi seru tentang musik diakhiri dengan denger Suarasama latihan di studionya yang nyaman mirip pendopo, lalu aku juga diajari cara bermain Shruti box dan diajarin cara nyanyi diiringi Shruti Box oleh Bang Irwan. Pulang dari rumah mereka, aku senyum terus, senyumnya keterusan sampai kembali ke Bali. Aku mau shruti box untuk hadiah ulang tahun depan. Hehe banyak maunya. Oh dear life, you are beautiful, indeed :D

Terakhir, aku ulangi sekali lagi, berhati-hatilah dengan segala andaimu yang kau ucapkan diam-diam di dalam hati karena ia mungkin saja menjadi nyata. Mendadak, di depan mata. Waktu kecil aku bercita-cita menjadi detektif. Akhirnya pas SD aku sok-sok menginvestigasi hal-hal ga penting seperti kenapa sayap lebah bisa putus atau kenapa geng laki-laki itu selalu ngejek perempuan-perempuan di kelas, dipikir-pikir freak juga ya? Haha. Lalu pas SMP sampai SMA aku ingin sekali jadi diplomat. Sampai akhirnya aku pertukaran pelajar ke California, dan berusaha menjadi representatif yang baik untuk bangsaku tercinta di sana. Sampai pulang, malah jadi kebarat-baratan. Hahaha fail. Lalu pas kuliah, aku pengen kerja di LSM, di UN atau apapun yang penting bidanya social development. Tapi, diam-diam aku selalu ingin jadi pembawa acara traveling seperti yang ada di program-program di Natgeo, BBC Knowledge, terutama yang membedah budaya dan keadaan sosio-ekonomi suatu tempat.

Pertengahan Desember lalu mendadak Banda Neira dapat email, isinya, mengundang Banda Neira jadi host untuk acara traveling di NET TV. Edan edan edan. Too much, 2013, too much. Haha, kalau kata orang Tegal rasanya keju dengan e pepet, rasanya itu seperti naik rollercoaster pas abis naik tinggi banget dan perlahan turun dan semakin lama makin cepet, jantungnya ketinggalan di atas.

Sebenernya keinginan masuk dunia TV sempat agak serius sih, jadi ga diam-diam banget, di antara momen-momen kontemplatif di Sayan aku sempet mikir, kayanya aku pengen banget ngejar impian jadi host acara traveling. Sempet ngehubungin beberapa temen yang kerja di beberapa stasiun tv yang punya acara documenter/traveling yang edukatif. Bimbangnya cukup lama, sampai tiba-tiba diingetin sama deadline report dan jadwal field visit yang ga memungkinkan lagi aku untuk galau. Hahaha. 

Dan begitu aja terjadi, 4 hari Banda Neira ke Garut, naik gunung, ke pantai, kolaborasi dengan seniman setempat, dan masih banyak kegiatan lagi yang sungguh seru ga ketolongan. Seperti itu aja tiba-tiba impianku jadi nyata. Kalau aku masih ga percaya bahwa Semesta mendengar, keterlaluan :p

Singkat kata, Banda Neira adalah highlight tahun 2013ku. Kejutan yang dibawa Banda Neira selalu membuat aku berdebar, berseri-seri, sebab setiap harinya adalah sebuah kejutan… setidaknya sampai hari ini.

image

Sekolah Kita Rumpin, Sekolahku

image

Berproses  membuat hidup jadi lebih hidup. Ga melulu terpaku pada hasil akhir menjadikan setiap pencapaian kecil, kegagalan ataupun pelajaran sebuah hadiah tersendiri. Sekolah Kita Rumpin, dimulai dari tahun 2012, hanya berdua saja, berkembang jadi lebih banyak lagi sampai sekarang aku bisa menyebut kakak-kakak yang tergabung dalam Sekolah Kita sebagai keluarga. Terlepas dari perkembangannya yang tidak meledak-meledak, tapi perkembangan Sekolah Kita begitu mengharukan di mata aku. Bukan hanya dari sistem yang semakin menjadi baik, kakak-kakak yang semakin solid terutama tim inti dan pengajar-pengajar angkatan awal, adik-adik juga mengalami perubahan yang begitu tampak; mereka jadi lebih percaya diri, lebih kreatif, lebih kritis. Perubahan ini hanya bisa dirasa oleh mereka yang menyaksikan, tapi beneran, semua ini adalah bagian dari proses yang kita jalanin bersama, dan aku seneng banget bisa menjadi bagian dari ini.

Adapun beberapa pencapaian kecil selama 2013 yang aku syukuri:

  1. Berhasil crowdfunding untuk membawa adik-adik pertama kali keluar dari Rumpin, sebuah tur edukatif ke Bandung. Terima kasih untuk semua yang telah bantu menyumbang :D
  2. Membangun Taman Baca, sebagai ruang kelas semi terbuka untuk adik-adik yang selama ini menumpang di mushola warga. Walau masih setengah jadi, taman baca ini udah bisa dipake buat nyimpen buku-buku dan tempat untuk kelas juga.
  3. Dapet bantuan donasi yang cukup besar dari Bisnis Indonesia, bisa digunakan untuk menutupi biaya operasional sedikit untuk tahun 2014.
  4. Kemah Kita, kumpul bersama kakak-kakak Sekolah Kita membahas dan mengevaluasi pencapaian Sekolah Kita dan mendapatkan banyak inspirasi dari cerita-cerita di kelas.
  5. Merampungkan Kultur Organisasi Sekolah Kita Rumpin
  6. Membuka penerimaan Kakak Kita angkatan III, merekrut lebih dari 10 kakak baru. Wuhu!

Pernah cape ga sih ra? Lelah? Pengen bobo 3 tahun terus bangun-bangun di kebun bunga matahari? Sering banget. Kadang lelahnya menyeluruh, jiwa dan raga. Cape banget.

Tapi aku selalu inget kata-kata Ben, dia bilang dia tertarik dengan orang-orang yang passionate. Dia tertarik dengan “What makes people tick? What makes people burn?”. Akhirnya aku tanyain ke diri sendiri, what makes me tick? What makes me burn? What makes me wanna do all of this? Lalu ketika aku lelah, selalu teringatlah aku dengan kalimat pembuka di binderku, “Remember, remember, remember the people you serve.” Tiap lelah, tiap abis debat panjang, tiap abis berantem, tiap abis ada konflik internal, liat ini, lalu langsung ga jadi lelah. Kembali semangat, untuk adik-adik di Sekolah Kita. Karena mereka begitu semangat setiap minggunya untuk belajar, tidak pernah datang terlambat, kalau kelas diliburkan mereka sedih, maka dari itu kakak-kakaknya harus memberikan yang lebih baik lagi untuk mereka :)

image

Akhirnya, Selandia Baru

image

Setelah menabung (dan menabung cuti 3 minggu) selama setahun lamanya, kesampean juga untuk ngunjungin Ben di Selandia Baru. Rasanya seneng ga karuan pastinya. Pertama, karena akhirnya bisa ketemu Ben dan bareng walau cuma 3 minggu aja. Untuk yang belum pernah atau tidak pernah, LDR itu ga semudah bilang “I miss you” di twitter. Setelah hampir 2 tahun, LDR itu ternyata bukan sesuatu yang mudah untuk dijalani (telat sadarnya), padahal aku tuh cukup percaya diri di awal kalau aku pasti bisa ngejalaninnya dengan hati yang riang, haha.

Segala yang kita lalui ga bisa kita share real time, perbedaan jarak dan waktu menyebabkan delay dalam berbagi. Misal, ketika aku lagi seneng banget abis gig di Yogya mau cerita, Ben udah tidur karena 6 jam lebih dulu di sana. Atau ketika Ben lagi stress ngerjain tesisnya, dia mau cari teman diskusi untuk bahas kebingungannya, aku masih tidur, lalu aku lanjut ke kantor dan kerja, sulit diganggu. Kadang harapan akan sebuah kehadiran fisik itu juga ada, karena karena jauh, opini yang dilontarkan masing-masing tentang kegiatan masing-masing hanya sebatas kekuatan bayangan dalam pikiran aja. Maka, bersyukurlah bagi kalian pasangan yang tidak sedang menjalani LDR. Bersyukurlah :p

Sekian intermezzo tentang sulitnya LDR, karena intinya adalah aku akhirnya bisa bareng Ben di Selandia Baru di bulan Oktober lalu. Selain keliling Wellington, ketemu teman-temannya Ben, gallery-hopping, menyusuri setiap sudut kota dan nyobain semua makanan yang enak-enak, kita juga nyewa van dan keliling pulau selatan selama 10 hari. Berasa di film-film haha.

Di dalam perjalanan itulah aku bertemu dengan karakter orang-orang Selandia Baru yang optimis dan positif banget. Jadi, di tengah-tengah perjalanan aku sempet agak kesal. Karena cuaca yang ga tentu. Spring di Pulau Selatan itu ternyata musim hujan. Dingin parah dan hujan mulu. Setelah nyetir cukup lama, sekitar 4 jam, kita akhirnya sampe gunung paling terkenal, Mount Cook. Rencananya mau trekking di sana besok paginya, tapi ternyata malemnya hujan es, badai, penampakan Mt. Cook serem dan gelap banget. Aku sedih, karena jauh-jauh dari Indonesia dapetnya cuaca buruk, perjalanan panjang yang harus berakhir sia-sia. Lebaynya kaya gitulah haha.

Setelah membatalkan trekking di Mt. Cook, kita cari taman nasional yang cuacanya lebih cerah di daerah tengah pulau. Di sana kita parkir di depan danau, di sebelah caravan yang isinya oma dan opa, sore-sore sedang masak salmon. Di Selandia Baru banyak banget pasangan lansia yang traveling, dan travelingnya hardcore. Bahkan bisa sampe puncak gunung, atau trekking yang 8 jam. Edan sekali.

Besok paginya, kita ternyata sama-sama menuju arah yang sejalan dengan caravan oma opa itu, ceritanya mau liat bukit yang ada di film Lord of the Rings itu. Gataunya, jalan ke sana longsor karena hujan beberapa hari lalu. Kita sempet bantu mereka kumpulin batu-batu besar supaya tetep bisa lewat (maksa luar biasa, dua duanya pasangan keras kepala haha). Lalu akhirnya kita cerita tentang kegagalan kemarin ke Mt. Cook. Mereka justru bilang, wah justru bagus sekali dong. Kamu dateng ke Selandia Baru, dapat pengalaman melihat Mt. Cook dalam keadaan cuaca ekstrem seperti itu. Alam memang seperti itu adanya. Berarti lain kali, kamu harus dateng lagi ke sini, dan lihat Mt. Cook di kala cerah. Sambil tersenyum. Aku jadi malu sendiri. Dan tiba-tiba menyesal pernah kesal selama perjalanan itu.. Heheh.

Akhirnya aku sadar, kalau dalam mencari pasangan hidup itu salah satu tes utamanya adalah melalui traveling bareng. Dia harus cocok dimulai dari menentukan lokasi-lokasi tujuan wisata, pilihan kendaraan, kecepatan berjalan, tujuan utama dia traveling, semuanya. Kaya hidup aja sih, tapi versi mini. Selama perjalanan juga pasti jadi banyak ngobrol kan, kalau pasangan yang banyak krik krik momentnya aku ga bisa bayangin sih kalau nanti udah nikah gimana. Cari pasangan hidup itu buatku harus yang bisa diajak diskusi tentang nama anak, tentang bentuk rumah, tentang bentuk awan yang seperti kuda, tentang rumput bergoyang seperti ada efek 3D, tentang playlist ipod yang pas untuk menemani perjalanan kali ini, tentang apapun, dan selalu bisa saling bersahutan. Kalau bisa, pengennya ngobrol terus sampai tertidur di bawah sinar Southern Star :) 

image

Foto bintang ini diambil oleh Ben di Puhi-puhi camping ground, malam terakhir freecamping di Pulau Selatan.

*

2013 adalah tahun yang menyenangkan. Terlalu bahkan, sehingga akan sulit kalau aku terus membandingkan 2013 dengan tahun-tahun yang udah berlalu atau yang akan datang. Untuk sementara, pengalaman-pengalaman selama 365 hari silam akan aku terima dan simpan dalam hati aja.

Meski begitu, 2013 aku kurang sekali baca buku. Banyak buku yang aku terlantarkan dengan alasan banyak kerjaan, dan dengan alasan bahwa di tahun 2013 aku lebih banyak baca buku kehidupan. Haha ngeles tingkat dewa. Semoga di tahun 2014, aku bisa menyelesaikan lebih banyak buku yang udah kubeli di tahun 2013.

Aku juga menunda keinginanku untuk lebih jago masak. Selain sayur-sayuran, kacang-kacangan, nasi goreng, masakan standar sarapan, aku udah bisa masak terong balado men. Gila ini aku merasa bangga banget bisa masak ini setara dengan menang Putri Indonesia rasanya hahaha. Semoga tahun depan bisa masak makanan beneran ya, apa ya? Sebagai vegetarian kayanya makananku emang gitu-gitu aja kaya makanan sapi. Hahaha.

Tahun 2013, terima kasih. Di 2014: Aku ingin lebih banyak belajar. Aku ingin hidup seperti Matahari yang terus menyinari bumi tanpa syarat, tanpa harap terbalas. Aku ingin kerja lebih tulus dan jujur. Kata Bapaku, Larasati itu artinya lurus hati. Rara Sekar Larasati, Putri Bunga yang Lurus Hatinya. Semoga nama ini ga keberatan untukku. Semoga tahun 2014, aku bisa lebih dekat dengan arti namaku sendiri.

Di 2014: Senang juga kalau bisa punya rumah sendiri, bisa punya anjing untuk dipeluk sepulang kerja, bisa punya kebun bunga sendiri, bisa main sama anak kecil yang selalu ingin tahu. Setidaknya, jalan ke sana dibukakan. Hahaha super kode padahal siapa juga mau ngelamar euy. Salahin semua teman-temanku yang udah pada tunangan, menikah dan punya anak nih.

Di 2014: I want to live in the moment. Enjoy every moment in life. Enjoy all there is to life.

Terakhir, di 2014, aku ingin menyelesaikan hal-hal yang perlu diselesaikan.

image

Selamat tahun baru 2014, teman-teman.
Semesta berkati kita, selalu.