Life is Relationship

Semua bermula dari sebuah pencarian akan arti kebahagiaan. Pencarian itu dilakukan melalui pengalaman sampai pada akhirnya aku menjadi kumpulan pengalaman-pengalaman itu sendiri. Pengalaman ditolak menjadi dirigen paduan suara di sekolah, pengalaman menggosok laos pada muka yang panuan, pengalaman kepala kejatuhan tempat selotip besi dari atas lemari, pengalaman dibanting pintu dan dimarahin, pengalaman minum air hujan di atas motor saat badai, pengalaman duduk di pantai belakang Puskesmas Semau bersama Ali membicarakan tentang semangatnya untuk belajar Bahasa Inggris untuk memajukan Atambua suatu hari, pengalaman mencintai dengan pamrih, pengalaman mencintai tanpa pamrih, pengalaman kehilangan, melepaskan, mengambil, memberi, menjadi.

Pengalaman-pengalaman ini jugalah yang membukakan pikiran aku tentang kebahagiaan, bahwa kebahagiaan adalah sebuah spektrum yang luas. Bukan hanya terbatas pada hidup mapan, beruang, bisa menafkahi keluarga dan mampu menyicil rumah di pinggiran kota, tapi ternyata bahagia itu sesuatu yang lebih sederhana… hm, atau bahkan lebih rumit dari itu. Dan menariknya di tengah perjalanan ini aku dipertemukan dengan bahagia yang aku kasih arti sendiri: sebuah pemahaman seutuhnya bahwa “Life is relationship.” Sebuah kesimpulan yang sebenarnya selalu menjadi kata kunci di setiap bukunya Krishnamurti, seorang filsuf panutan dari India yang sepanjang hidupnya didedikasikan untuk mendalami hidup. Awalnya sempet kecewa sih, setelah baca buku-buku dan banyak artikelnya, ternyata kesimpulannya hanya itu. Hanya itu? Waktu itu pikir aku. Kalau gitu mending baca kumpulan quotes yang dipost selebtwit aja. Haha. Tapi ternyata pengalamanlah yang memberikan arti beda buat kesimpulan tadi.

Pemandangan dari kereta Bandung ke Jogja kali ini memberikan banyak waktu buatku berpikir, selain duduk sebelah seorang misionaris dari Texas yang banyak bercerita tentang keimanannya, diiringi dengan diskusi seorang profesor di perguruan tinggi Islam dan seorang filsuf jalanan dari Lombok yang gemar membaca dan sudah khatam semua kitab-kitab agama Abrahamistik, “Apa mungkin di balik setiap keberadaan tidak ada penciptaan?” celetuknya. Di sela pembicaraan terlintas beberapa visualisasi tentang hal-hal yang aku kangenin, naik kereta ke Cepu dan disambut kopi lokal di kantor diiringi dangdutan dari acara khitanan tetangga, ngobrol dengan kepala desa sampai larut tentang skandal pembunuhan terbaru, basa-basi dengan ibu-ibu di kampung ngobrolin hasil panen dan kegiatan kelas literasi buat lansia. Apa ya yang membuatku bahagia? Observasi rasa menyimpulkan dua hal, yang adalah turunan dari “life is relationship” tadi, yang pertama adalah hubungan aku dengan diriku sendiri. Sebuah pemahaman yang menyeluruh tentang diriku, Tuhanku dan tuhan-tuhan kecilku, apa yang aku mau, apa yang aku butuhkan, yang aku inginkan, apa yang membuatku bisa terus belajar dan juga bisa merasa seutuhnya adalah aku.

Lalu aku pikir, kayanya ga mungkin berhenti di situ. Karena hidupku ga berotasi hanya disekitarku. Hidup ini jelas lebih besar dari itu. Makanya poin keduanya adalah hidup bahagia juga adalah bagaimana aku bisa menjadi arti dan membantu orang lain. Klise sih, tapi lagi-lagi pemahaman itu hanya hadir buatku ketika dibarengi dengan pengalaman - yang baru aku alami sedikit setelah hidup hampir 25 tahun. Kita semua seperti punya peran masing-masing di dunia ini, dan peran-pertan itu tergabung dalam sebuah skema besar dengan tujuan untuk saling membantu. Pak satpam di depan bank BCA yang selalu bukain pintu, menyapa dan mengarahkan kita ke mesin cetak nomor antrean, bapak supir angkot Batak pemarah yang dengan cara mengemudinya yang amburadul tapi bisa bikin aku ga telat masuk kelas, peminta-minta yang pakai kostum teletubbies di perapatan jalan yang bikin kita mikir betapa susahnya mencari penghidupan untuk banyak orang di dunia ini. 

Observasi berlanjut. Terdengar sayup-sayup diskusi si misionaris dengan filsuf jalanan, “Tapi dalam hidup itu kita harus sengsara.” sambil menatap dengan bingung ke arah jendela, aku liat ada 2 anak lagi main delman-delman-an, anak satu jadi delmannya, anak kedua ditali dan jadi kudanya. Pengalaman audio-visual yang absurd. Sengsara… ngingetin aku tentang relationship yang mengharuskan kita untuk menjalani hidup “give and take”. Keimananku pada konsep in yang sebenrnya seringkali menjadikan aku tidak terlalu ekstrem ke mana-mana, sebab, ga ada salahnya sih menurutku misalnya suatu hari ngikut suami yang harus sekolah atau hidup jadi penulis di Peru, dan aku harus merelakan pekerjaan tetap di Jakarta, karena mungkin di saat anakku umurnya 4 tahun dan aku ingin lanjut sekolah S3, suamiku yang akan mengalah jadi stay at home dad. Atau memilih untuk memilih dengan konsekuensi berani menerima konsekuensi dalam hidup ini. Atau sesederhana, memberi ketika bisa memberi, dan mengalah sepenuhnya untuk mengalah.

Hm, hidup ini pendek dan katanya cuma sekali, maka rasanya terlalu rugi sih buat dihabisin dengan hal-hal yang menjadikan aku benci dengan hidup ini. Segala yang dikerjakan setengah hati tidak sepatutnya diperjuangkan lagi, mantraku seperti itu. Makanya aku mikir, kalau emang hidup ini dianalogikan sebuah perjuangan, perjuangkanlah dengan sepenuh hati. (meskipun menurutku hidup ini ga melulu tentang perjuangan sih) Dan ternyata untuk bisa kaya gitu, aku harus bisa berdamai dengan diri aku sendiri dulu yang adalah susah. Dan mungkin dengan kemampuan itu, peran apapun yang akan aku mainkan di dunia ini bisa aku hayati dan pada akhirnya bisa jadi berarti, mau itu jadi ibu rumah tangga yang rajin blogging tentang resep makanan vegetarian dan hidup sehat, antropolog yang separuh hidupnya dihabiskan di desa, ataupun jadi pemilik perpustakaan umum sederhana yang juga jualan teh botol dan tutug oncom di Kecamatan Sukamiskin.

Doaku malam ini cuma satu: kalau memang hidup ini punya arti, semoga arti itu adalah titik temu antara menjadi diri sendiri dan kesempatan untuk bisa terus berbagi. Juga bagaimana aku bisa mengenal apa arti batas di antaranya. “Batas yang membuat manusia mengenal dunia tetapi tak bisa mengubahnya,” mengutip kata-kata Bhisma kepada Amba sebelum ia mati. 

Yogyakarta, 12 Oktober 2014

image

Senja begitu memikat sebab ia adalah nyata. Ia mengajarkan kami tentang kematian dan perpisahan. Bahwa keduanya adalah satu yang indah apa adanya; hakiki kehadirannya. Senja itu sebenarnya adalah cara kami menikmati ketakutan kami dalam balut kenikmatan sementara - bahwa hidup itu sebenarnya tidak akan pernah sempurna.

Kami tahu senja tidak bisu, hanya hangatnya tak bersuara. Ia membisikkan perpindahan terang menuju malam melalui gurat-gurat warna yang saru - kadang jingga, sedikit biru atau campur ungu,

lalu pada akhirnya ia sematkan hal-hal yang belum bertemu pada awan-awan abu di pojokan langit sore itu. Menemani kami, kembali menunggu.

Pantai Uiboa, 17 Juli 2014

Suara Awan, Sebuah Pertemuan

dibandaneira:

image

Konser Kolaborasi :
Banda Neira, Gardika Gigih, dan Layur 

Tajuk :
“Suara Awan”

Turut bermusik bersama:
Alfian Emir Aditya (cello), Jeremia Kimoshabe (cello),
dan Suta Suma Pangekshi (biola)

Sabtu, 26 April 2014
Amphiteater Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis km 8,4 Tembi, Timbul Harjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Buka gerbang pukul 19.15, Konser pukul 20.00
Acara khusus undangan

Undangan bisa didapatkan mulai Sabtu 19 April 2014
di Tembi Rumah Budaya pada jam kerja (10.00-16.00)
Satu orang maksimal mengambil dua undangan
Kontak: 0878.394.111.92 (Forum Musik Tembi)

Penjelasan singkat:

Banda Neira, Gardika Gigih, dan Layur akan berkolaborasi menggabungkan warna musik yang mereka bawa dalam sebuah konser bertajuk “Suara Awan, Sebuah Pertemuan”. Konser ini menggabungkan kesederhanaan folk akustik Banda Neira dengan alunan piano Gardika Gigih serta nuansa elektronik pada musik Layur. Musik ketiganya akan dibuat lebih megah dengan tambahan string chamber Alfian, Jeremia, dan Suta. 

Konser kolaborasi ini dipicu oleh rasa saling kagum di antara Banda Neira, Gigih, dan Layur. Banda Neira mengagumi musik karya Gigih dan Layur, begitu juga sebaliknya. Awalnya, pertemuan ketiga musikus ini awalnya hanya terjadi di dunia maya. Di Soundcloud lebih tepatnya, situs di mana ketiganya mengunggah karya. Saling komentar di dunia maya akhirnya berkembang menjadi pertemuan tatap muka. Setelah beberapa kali bertemu di Yogyakarta, mereka sepakat mengadakan konser kolaborasi.

Rencananya ada 10 lagu yang akan dibawakan dalam Suara Awan. Dua lagu ciptaan Layur (Are You Awake?, Suara Awan), empat lagu ciptaan Gigih (Kereta Senja, Tenggelam, Hujan dan Pertemuan, I’ll Take You Home), dan empat lagu ciptaan Banda Neira (Hujan di Mimpi, Matahari Pagi, Derai-derai Cemara, Hal-hal yang Tak Kita Bicarakan).

Lagu-lagu yang dimainkan dalam konser kolaborasi akan terdengar sangat berbeda dengan yang selama ini diperdengarkan. Ketiganya mengubah aransemen lagu menjadikannya sesuatu yang baru. Ketiganya juga terbuka untuk ide-ide baru yang terlontar ketika latihan bersama sehingga struktur serta nuansa lagu bisa sama sekali berbeda dengan yang aslinya.

Karya-karya Gigih yang biasanya berupa komposisi instrumental akan terdengar berbeda dengan tambahan vokal dan lirik. Lagu-lagu Banda Neira yang biasanya dibuat hanya dengan satu gitar kopong dan satu xylophone akan terdengar lebih mewah dengan tambahan suara-suara dari Layur. Musik elektronik Layur pun akan jadi berbeda dengan sentuhan akustik, piano, dan iringan cello dan biola.

Profil Singkat :

Banda Neira
Banda Neira adalah grup musik yang dibentuk oleh jurnalis Tempo Ananda Badudu (26) dan pekerja sosial Rara Sekar Larasati (23). Mereka menyebut musiknya sebagai musik nelangsa riang. Nelangsa karena stelan mereka bermusik amat sederhana, terdiri dari dua vokal, satu gitar kopong, dan satu xylophone. Dan riang karena lagu-lagu yang mereka buat umumnya bernada gembira.

Sejak dibentuk pada Februari 2012 lalu, Banda Neira telah merilis satu album EP (Di Paruh Waktu-2012), dan satu album penuh (Berjalan Lebih Jauh-2013). Di bawah naungan label Sorge Records, mereka menggratiskan lagu yang mereka buat dan menyebarnya di Soundcloud.com/bandaneira.

Musik mereka bisa didengar di sini
Informasi Banda Neira bisa didapat di sini

Twit band dan personel:
@dibandaneira
@anandabadudu
@rarasekar

Gardika Gigih
Gardika Gigih adalah komponis dan pianis muda jebolan Institut Seni Indonesia (ISI). Pemuda 23 tahun mulai jadi pembicaraan setelah ia menggelar konser Train Music pada November 2012. Gigih memimpin orkestra memainkan karya-karya yang ia bikin, di antaranya Keretamu Berlalu dan Hujan Pun Turun, Hujan dan Pertemuan, dan Perjalanan Pulang.

Karya-karya Gigih beberapa kali dimainkan di luar negeri. Seperti komposisi berjudul Kampung Halaman, pada 2011 dipentaskan di Yokohama, Jepang, oleh pianis Makoto Nomura. Pada 2012, karya Night at My Homeland yang ditulis Gigih dipentaskan Cultural Community Center Krakow, Polandia.

Musik Gigih bisa didengar di sini
Info tentang Gigih bisa dilihar di sini
Twit: @musikgigih

Layur
Layur adalah nama panggung Febrian Mohammad (25). Modal utama alumnus jurusan Akuntansi UII Yogyakarta bermusik ini adalah laptop dan program Fruity Loops. Yang istimewa adalah eksplorasi suara dan musik yang dilakukan Layur lewat laptop itu.

Karyanya banyak menuai pujian karena membawa musik Fruity Loop ke level yang belum pernah dicapai musikus lainnya. Ia menjadikan musik elektronik berjiwa. Bukan sekadar membuat repetisi bit dan loop semata. Pada 2013, label Totokoko dari Jepang merilis karya-karya Layur. Ada tujuh lagu dalam EP bertajuk Self Titled tersebut, di antaranya Sepotong Kecil, The Morning Hills, dan Sway.

Karya Layur bisa didengar di sini
Twit: @patigenie

Profil String Chamber:

Alfian Aditya dan Jeremia Kimoshabe:
Cellist Alfian dan Jeremia membentuk duo bernama Bad Cellist. Duo yang dibentuk pada Desember 2012 ini bermusik hanya dengan dua cello. Penguasaan teknik yang luar biasa hebat membuat mereka leluasa mengeksplorasi jenis musik apapun dengan instrument cello. Bad Cellist pernah tampil di Ngayogyajazz pada 2013 lalu. Dalam waktu dekat mereka akan merilis sebuah single

Musik alfian bisa didengar di sini
twit:
@alfianaditya
@kimo_cellist

Suta Suma Pangekshi
Suta Suma adalah pemain biola muda yang saat ini masih studi di Jurusan Musik ISI Yogyakarta. Ia sering bergabung dengan berbagai orkestra di Indonesia, seperti Sa’Unine String Orchestra, Gita Bahana Nusantara, dan masih banyak lagi.

twit:
@suta_suma

Pendukung Acara :
Tembi Rumah Budaya
Forum Musik Tembi
Koperasi Keluarga Besar Mahasiswa (KKBM) Unpar
Sorge Magazine
Sorge Sindikasi
Sorge Records
Studio Mahati
Forum Film Dokumenter
Art Music Today