image

Senja begitu memikat sebab ia adalah nyata. Ia mengajarkan kami tentang kematian dan perpisahan. Bahwa keduanya adalah satu yang indah apa adanya; hakiki kehadirannya. Senja itu sebenarnya adalah cara kami menikmati ketakutan kami dalam balut kenikmatan sementara - bahwa hidup itu sebenarnya tidak akan pernah sempurna.

Kami tahu senja tidak bisu, hanya hangatnya tak bersuara. Ia membisikkan perpindahan terang menuju malam melalui gurat-gurat warna yang saru - kadang jingga, sedikit biru atau campur ungu,

lalu pada akhirnya ia sematkan hal-hal yang belum bertemu pada awan-awan abu di pojokan langit sore itu. Menemani kami, kembali menunggu.

Pantai Uiboa, 17 Juli 2014

Suara Awan, Sebuah Pertemuan

dibandaneira:

image

Konser Kolaborasi :
Banda Neira, Gardika Gigih, dan Layur 

Tajuk :
“Suara Awan”

Turut bermusik bersama:
Alfian Emir Aditya (cello), Jeremia Kimoshabe (cello),
dan Suta Suma Pangekshi (biola)

Sabtu, 26 April 2014
Amphiteater Tembi Rumah Budaya
Jl. Parangtritis km 8,4 Tembi, Timbul Harjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Buka gerbang pukul 19.15, Konser pukul 20.00
Acara khusus undangan

Undangan bisa didapatkan mulai Sabtu 19 April 2014
di Tembi Rumah Budaya pada jam kerja (10.00-16.00)
Satu orang maksimal mengambil dua undangan
Kontak: 0878.394.111.92 (Forum Musik Tembi)

Penjelasan singkat:

Banda Neira, Gardika Gigih, dan Layur akan berkolaborasi menggabungkan warna musik yang mereka bawa dalam sebuah konser bertajuk “Suara Awan, Sebuah Pertemuan”. Konser ini menggabungkan kesederhanaan folk akustik Banda Neira dengan alunan piano Gardika Gigih serta nuansa elektronik pada musik Layur. Musik ketiganya akan dibuat lebih megah dengan tambahan string chamber Alfian, Jeremia, dan Suta. 

Konser kolaborasi ini dipicu oleh rasa saling kagum di antara Banda Neira, Gigih, dan Layur. Banda Neira mengagumi musik karya Gigih dan Layur, begitu juga sebaliknya. Awalnya, pertemuan ketiga musikus ini awalnya hanya terjadi di dunia maya. Di Soundcloud lebih tepatnya, situs di mana ketiganya mengunggah karya. Saling komentar di dunia maya akhirnya berkembang menjadi pertemuan tatap muka. Setelah beberapa kali bertemu di Yogyakarta, mereka sepakat mengadakan konser kolaborasi.

Rencananya ada 10 lagu yang akan dibawakan dalam Suara Awan. Dua lagu ciptaan Layur (Are You Awake?, Suara Awan), empat lagu ciptaan Gigih (Kereta Senja, Tenggelam, Hujan dan Pertemuan, I’ll Take You Home), dan empat lagu ciptaan Banda Neira (Hujan di Mimpi, Matahari Pagi, Derai-derai Cemara, Hal-hal yang Tak Kita Bicarakan).

Lagu-lagu yang dimainkan dalam konser kolaborasi akan terdengar sangat berbeda dengan yang selama ini diperdengarkan. Ketiganya mengubah aransemen lagu menjadikannya sesuatu yang baru. Ketiganya juga terbuka untuk ide-ide baru yang terlontar ketika latihan bersama sehingga struktur serta nuansa lagu bisa sama sekali berbeda dengan yang aslinya.

Karya-karya Gigih yang biasanya berupa komposisi instrumental akan terdengar berbeda dengan tambahan vokal dan lirik. Lagu-lagu Banda Neira yang biasanya dibuat hanya dengan satu gitar kopong dan satu xylophone akan terdengar lebih mewah dengan tambahan suara-suara dari Layur. Musik elektronik Layur pun akan jadi berbeda dengan sentuhan akustik, piano, dan iringan cello dan biola.

Profil Singkat :

Banda Neira
Banda Neira adalah grup musik yang dibentuk oleh jurnalis Tempo Ananda Badudu (26) dan pekerja sosial Rara Sekar Larasati (23). Mereka menyebut musiknya sebagai musik nelangsa riang. Nelangsa karena stelan mereka bermusik amat sederhana, terdiri dari dua vokal, satu gitar kopong, dan satu xylophone. Dan riang karena lagu-lagu yang mereka buat umumnya bernada gembira.

Sejak dibentuk pada Februari 2012 lalu, Banda Neira telah merilis satu album EP (Di Paruh Waktu-2012), dan satu album penuh (Berjalan Lebih Jauh-2013). Di bawah naungan label Sorge Records, mereka menggratiskan lagu yang mereka buat dan menyebarnya di Soundcloud.com/bandaneira.

Musik mereka bisa didengar di sini
Informasi Banda Neira bisa didapat di sini

Twit band dan personel:
@dibandaneira
@anandabadudu
@rarasekar

Gardika Gigih
Gardika Gigih adalah komponis dan pianis muda jebolan Institut Seni Indonesia (ISI). Pemuda 23 tahun mulai jadi pembicaraan setelah ia menggelar konser Train Music pada November 2012. Gigih memimpin orkestra memainkan karya-karya yang ia bikin, di antaranya Keretamu Berlalu dan Hujan Pun Turun, Hujan dan Pertemuan, dan Perjalanan Pulang.

Karya-karya Gigih beberapa kali dimainkan di luar negeri. Seperti komposisi berjudul Kampung Halaman, pada 2011 dipentaskan di Yokohama, Jepang, oleh pianis Makoto Nomura. Pada 2012, karya Night at My Homeland yang ditulis Gigih dipentaskan Cultural Community Center Krakow, Polandia.

Musik Gigih bisa didengar di sini
Info tentang Gigih bisa dilihar di sini
Twit: @musikgigih

Layur
Layur adalah nama panggung Febrian Mohammad (25). Modal utama alumnus jurusan Akuntansi UII Yogyakarta bermusik ini adalah laptop dan program Fruity Loops. Yang istimewa adalah eksplorasi suara dan musik yang dilakukan Layur lewat laptop itu.

Karyanya banyak menuai pujian karena membawa musik Fruity Loop ke level yang belum pernah dicapai musikus lainnya. Ia menjadikan musik elektronik berjiwa. Bukan sekadar membuat repetisi bit dan loop semata. Pada 2013, label Totokoko dari Jepang merilis karya-karya Layur. Ada tujuh lagu dalam EP bertajuk Self Titled tersebut, di antaranya Sepotong Kecil, The Morning Hills, dan Sway.

Karya Layur bisa didengar di sini
Twit: @patigenie

Profil String Chamber:

Alfian Aditya dan Jeremia Kimoshabe:
Cellist Alfian dan Jeremia membentuk duo bernama Bad Cellist. Duo yang dibentuk pada Desember 2012 ini bermusik hanya dengan dua cello. Penguasaan teknik yang luar biasa hebat membuat mereka leluasa mengeksplorasi jenis musik apapun dengan instrument cello. Bad Cellist pernah tampil di Ngayogyajazz pada 2013 lalu. Dalam waktu dekat mereka akan merilis sebuah single

Musik alfian bisa didengar di sini
twit:
@alfianaditya
@kimo_cellist

Suta Suma Pangekshi
Suta Suma adalah pemain biola muda yang saat ini masih studi di Jurusan Musik ISI Yogyakarta. Ia sering bergabung dengan berbagai orkestra di Indonesia, seperti Sa’Unine String Orchestra, Gita Bahana Nusantara, dan masih banyak lagi.

twit:
@suta_suma

Pendukung Acara :
Tembi Rumah Budaya
Forum Musik Tembi
Koperasi Keluarga Besar Mahasiswa (KKBM) Unpar
Sorge Magazine
Sorge Sindikasi
Sorge Records
Studio Mahati
Forum Film Dokumenter
Art Music Today

Kak Rara bagus deh blog postnya yang terakhir. Mau nanya donk kak tentang hubungan kak Rara dengan kak Ben, apa yang bikin kak Rara tertarik sama kak Ben? Dan setelah lama sama kak Ben menurut kakak, seperti yang kakak tulis di blog kakak, what makes kak Ben tick? what makes him burn?

Setiap ada pertanyaan yang kaya gini aku selalu mikir ini pasti Ben yang nanya nih. Haha. Tapi boleh, kali ini aku ingin jawab.

Untukku, yang membuat Ben menarik adalah ya itu, the things that make him tick, the things that make him burn. Keingintahuannya yang tinggi untuk mengerti hidup adalah yang membuat hubunganku dan Ben ga seperti pacaran pada umumnya (ngasih kado boneka pas Valentine’s day, merayakan monthversary? atau berlomba-lomba untuk ngasih kejutan pas ulang tahun) tapi lebih seperti perjalanan bersama buat mengerti hidup lebih lagi. Aku pun punya rasa ingin tahu yang sama, walau mungkin ga selalu di hal-hal yang persis sama. Tapi itulah yang justru bikin seru, kadang kita bisa saling mengisi, kadang juga ada perbedaan yang berakhir jadi sebuah diskusi.

Kalau pacaran kita itu kaya gimana ya? Mungkin, ibarat dua anak kecil yang tenggelam di sebuah perpustakaan, ga sabar ingin baca semua buku yang ada supaya bisa lebih mencari, membaca dan mengerti tentang segala yang ada. Hehe, ya.. mungkin seperti itu kali ya.

Hal lainnya adalah Ben is a kind of person who lives life to the fullest. He would not mind being broke for a couple of months just so that he could go on a backpacking trip to the Southern Island, he wouldn’t mind using his last dollars on a really delish ice cream or an original Deluxe Edition CD of Beirut, he would not mind spending heaps of money on a complete collection of Edvard Munch’s paintings just so that he could gaze at each painting for hours, every single day. He would not mind working his ass off just to buy a rangefinder camera for his girlfriend’s birthday or his brother’s birthday.

But on top of all, he is the kind of person who would not mind spending most of his time reading under a tree, writing at a quiet coffee shop, and taking abstract photos of the streets and say, dear world, here’s the thing, I don’t wanna be stuck in a job I hate or in a daily routine that sucks big time, better I have a short life that is full of what I like doing, than a long life spent in a miserable way. Itulah Ben :D

Terakhir, selain selera humor, musik dan seni yang cocok, Ben writes one of the most beautiful and honest writings in the world (I’m his secret fan ever since I found his blog) and I just fall so easily for great writers like him hahaha.