"Death ends a life, not a relationship."
— Mitch Albom (via thresca) (via quote-book)
baby bobo died,
i’m terribly sad..
"Wheresoever you go, go with all your heart."
— Confucius
adalah catatan indonesian politics aku semester lalu haha.

gatau kenapa kangen kuliah. tapi ga deng boong.

adalah catatan indonesian politics aku semester lalu haha.

gatau kenapa kangen kuliah. tapi ga deng boong.

"Nobody dies a virgin, life fucks us all"
— Kurt Cobain (via kelseysmile) (via mysteriosa) (via quote-book)
Langit Tuhan

waktu seminar menulis di jakarta, aku dipaksa nulis satu artikel dalam waktu 15-20 menit. yaudah karena udah buntu gatau mau nulis apa, akhirnya aku nulis cerpen aja! (haha sok cerpen) aku nulis bener-bener ga pake mikir pokonya jebrat jebret pake perasaan dan kasih sayang naon. haha, dan inilah cerpen 15 menitnya..

*


Setiap orang pasti memiliki suatu hal yang membuat dirinya sangat merasa bahagia. Bisa berbentuk seseorang yang sangat kita sayangi, barang yang begitu berarti untuk kita, atau apapun bisa. Tapi untukku, langit dan awan-awan selalu dapat melengkapi kebahagiaan hidup aku. Mungkin terdengar berlebihan, tetapi adakah sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini ketika aku dan kamu tidak pernah sama?


Sore itu, jam 5, aku merasa sangat lapar. Aku lupa makan dari pagi karena sibuk merajut, berpikir bahwa merajut dapat mengisi perutku hari ini dengan sensasi dan kepuasaan yang dibawanya. Aku harus pulang segera,  berpikiran untuk membeli makanan instan di restoran fastfood kelas menengah yang tidak jauh dari tempatku berada namun tidak menyediakan pembayaran dengan kartu debit. Tetapi uangku habis, aku malas pergi ke ATM, dan restoran sialan yang memiliki drive-thru itu tetap tidak bisa menerima kartu yang berharga di atas 2 juta rupiah itu. Beginilah Indonesia dan hal hal yang membuatku menjadi seorang internasionalis.


Karena begitu lapar, aku tidak dapat berpikir dengan jernih. Lalu aku mendapat kesimpulan, bahwa ketika perut kosong, otakpun kosong, dan hati menjadi seakan-akan seperti sebuah batu yang ingin pecah. Emosiku tak terkendalikan dan keinginan untuk marah menjadi semakin tinggi, walaupun amarah yang naik ke permukaan hanyalah sebuah formalitas untuk menunjukkan kepada dunia betapa rasa lapar ini membunuhku, dan betapa aku ingin dikasihani oleh dunia dengan rasa laparku ini. Tiba-tiba aku membayangkan anak-anak kelaparan di Afrika, apa mereka merasa seperti aku? Kalau iya, tak heran dunia ini kelabu.


Di perempatan, seperti biasa banyak pengamen yang mungkin juga merasakan tingkat kelaparan yang sama denganku. Tapi mungkin mereka sudah terbiasa dan aku tidak, tapi aku tidak peduli karena aku lapar. Terlihat wajah-wajah sedih yang mereka tampilkan di depan kaca mobilku, tidak tahu apakah itu hanya sebuah kepalsuan atau realita. Aku melirik uang seratus rupiah yang tergeletak di tempat penyimpanan minum di bawah tape mobilku, dan membiarkannya disana. Aku tidak akan memberi uang itu kepada pengamen pengamen itu, aku lapar dan aku tidak punya tenaga untuk menggunakan tanganku untuk memberi sepeser uang tersebut.


Untuk kembali pulang, aku harus menaiki sebuah jalan layang di daerah perumahan kumuh. Biasanya, setiap kali aku melewati perumahan kumuh tersebut aku selalu merasa iba, merasa bahwa ada kewajiban yang tertinggal bersama atap atap kumuh itu, merasa bahwa aku seharusnya menjadi agen perubah dunia untuk perumahan kumuh itu agar mereka dapat hidup lebih layak. Aku adalah orang yang baik, tapi hari ini aku sedang berlibur dari pekerjaanku menjadi orang baik. Aku adalah orang yang lapar dan tidak ada yang bisa menggangu pikiranku selain rasa lapar ini.


Melamun. Salah satu kebiasaan yang sering aku lakukan ketika sedang menyupir adalah melamun. Suatu kegiatan yang cukup berbahaya ketika dilakukan tatkala sedang menyupir tapi sebuah kenikmatan yang tak terkira ketika kita dijatuhkan oleh sebuah buah lamunan yang begitu manis. Aku melamun melihat lurus ke depan, tetap menginjak gas.


Aku melihat langit berbicara. Pernahkah kamu melihat wallpaper yang secara automatis kita dapatkan ketika kita baru saja menginstall Windows XP? Salah satunya adalah suatu gambar 3D yang mengilustrasikan lapisan stratosfer berwarna biru dengan gradasi lembut yang menciptakan sebuah efek artificial pada gambar tersebut. Kalau kamu ingat, berarti kamu bisa membayangankan apa yang sedang aku lihat sore itu. Langit memunculkan lapisan-lapisannya yang selama ini tersembunti oleh awan awan kelabu. Langit tak hanya berwarna biru, tetapi berbagai macam warna biru yang bisa kamu bayangkan adalah langit sore itu. Lamunanku berubah menjadi sebuah pujian akan kekaguman. Siapa yang dapat menciptakan keindahan di atas perumahan yang begitu kumuh ini? Siapa yang berani menciptakan sebuah paradoks kehidupan manusia tanpa mengenal waktu dan tempat?


Dia adalah Tuhan. Tuhan yang kita sebut dengan berbagai nama. Tuhan yang semestinya aku sebut sebagai Allah. Tapi menurutku Tuhan hanya satu,  dan tidak ada yang bisa mencari-cari tuhan lainnya untuk disembah kecuali Tuhan. Karena Tuhanku adalah Tuhanku, mungkin Tuhanmu juga, tapi yang jelas Tuhanku adalah pelukis dari langit indah sore ini. Lalu aku tersadar, mungkin aku bukan seorang yang religius, bukan juga seseorang yang bisa dianggap seorang yang spiriualitasnya kuat. Aku hanya seorang manusia yang mengagumi keindahan dunia, menangisi kehancuran dunia, dan bertanya darimana asal muasal ini semua. Kamu bisa memasukkan aku ke dalam kategori bersama kaum kaum fideis disana, yang mementingkan iman di atas agama. Kamu juga bisa bilang bahwa aku hanya seorang remaja labil yang mengkategorikan dirinya sendiri sebagai seorang agnostik, atau muslim yang gagal. Tapi satu hal yang bisa aku yakini kepadamu adalah bahwa aku, seseorang yang lapar, seseorang yang tidak bisa berpikir dan merasa, seseorang yang tidak peduli dengan sesama, seseorang yang melamun saja, aku percaya dengan Tuhan. Aku merasakan Tuhan, dan aku dapat merasakan-Nya sekarang. Bukan ketika ayat suci dikumandangkan, atau ketika aku bersujud untuk-Nya tengah malam meminta ampun, tetapi ketika langit berkata akan keagunganNya, mengingatkanku akan kebesaran-Nya yang selama ini aku tinggalkan.


Rasa lapar bisa membunuh iman, rasa haus bisa membunuh kepedulian. Haus akan kekuasaan, lapar akan kekayaan dan kebahagiaan. Kenapa harus berkuasa dan kaya ketika bahagia bisa didapatkan dari sebuah lukisan keagungan yang menunjukkan dirinya setiap hari melalui awan-awan yang bergerak, dan refleksi air laut yg terlukiskan pada langit?


Aku segera menuju mesjid terdekat.

Sudah saatnya aku bertemu dan memuji Tuhanku.

te extraño.
te extraño.
1 of 96
Themed by: Hunson

unique tracker