19th Oct 2011

imyourtoxicvalentine asked: Ka rara, kemarin ini kan bilang kalo attachment itu sumber kesengsaraan. Itu berlaku kalo kita attached sama yang sifatnya materi atau berlaku jg kalo sama makhluk hidup lain (e.g.: hewan peliharaan, orangtua, pacar, dll)? Trus kan pasti manusia akan mencari sesuatu/seseorang yg dijadikan object of affection, itu gimana kaitannya dgn attachment tadi? Gimana lg kalo kaitannya sm Tuhan? Kan attachment sumber kesengsaraan, brarti kl attached sm Tuhan...? #JREEENG :)) terimakasih ka rara, jawab ya!

Iyaaaa, kalau sejauh ini aku percaya bahwa attachment atau kemelekatan itu akan membuahkan kesengsaraan berlaku buat semua benda ataupun orang, atau bahkan suatu perasaan timbal balik yang selalu kita inginkan dari orang lain (afeksi, kasih sayang, perhatian dll). Karena karena kalau menurut aku sih, attachment ke benda-benda atau orang atau apapun yang bisa membuat kita bahagia sebenernya semakin menunjukkan attachment yang paling kuat yaitu attachment kepada keakuan kita, the “I”, si aku itu. Dan ketika kita terlalu melekat dengan keakuan, ketika kita tidak bisa memenuhi keinginan si aku ini, kita bakal selalu merasa sedih, galau, sengsara, merasa hidup ini tidak adil, mempertanyakan kenapa sih harus aku yang sabar? dan lain lain, haha. Gatau nih ya nyambung atau nggak, tapi di Al-Qur’an bahkan ada ayat yang bilang, “Bunuhlah dirimu yang kerdil”, dan kalau menurut interpretasi aku ayat ini menganjurkan kita untuk mengikis sisi keakuan manusia yang bersifat sangat fisik, yaitu kemelekatan pada diri, pada benda-benda, pada keduniawian. Lumayan nyambung lah ya? Haha *digebuk ustad*

Nah, trus kalau masalah Tuhan, kalau menurut aku sih ini tergantung gimana kita mendefinisikan Tuhan itu sendiri. Kalau Tuhan itu kita maknai secara lebih esoteris dan tidak bersifat fisik semata, seharusnya konsep kemelekatan kepada Tuhan atau agama tidak akan bermanifestasi dalam pikiran kita lagi, hihi :p

Tapiii, karena kita sering juga menyamakan definisi Tuhan dengan ritual keagamaan kita, berarti terkadang kita bakal melekat kepada ritual itu sendiri. Kalau kita melekat pada suatu ritual, ketika kita meninggalkannya kita akan merasa kosong, sengsara, bersalah, insecure, dll. Ritual itu masalahnya bisa tertelan jaman, agama pun bisa menjadi obsolete dengan perkembangan waktu terutama kalau kita gak punya iman yang kuat :p Kita bisa makin sengsara kalau terlalu attached dengan konsep-konsep semata dan tidak bisa menjalani kehidupan keberagamaan yang melampaui batas kemelekatan pada ritual dan lapisan fisik. Karena itu menurutku, kalau beragama itu bener-bener diimani lebih dalam dan tidak terbatas hanya pada keimanan pada ritual saja, harusnya bisa membuahkan insan yang kamil. Amin..

Hm.. Pertanyaan kaya gini emang sering banyak yang nanyaa dis, tapi buat menjawabnya kayanya cuma bisa lewat perkembangan kesadaran dan pengalaman hidup masing-masing sih, menurut hemat saya.. Hehe. 

Sebagai penutup, mau berbagi aja kalau di Buddhism, selalu diajarin, gak bisa dipungkiri bahwa pasti kita sebagai manusia membutuhkan berbagai hal dalam hidup, termasuk benda-benda material, orang-orang yang dicintai, perhatian, perasaan yang terbalas, dan lain lain. Yang harus kita inget sebenernya adalah sifat hakiki dari setiap hal yang ada di dunia ini, tidak permanen dan selalu berubah. Makanya selalu diajarin supaya kita gak melekat sama hal-hal yang ada di dunia ini, supaya pas kita meninggal nanti, kita gak susah melepas diri dari keduniawian yang mengikat kita selama kita hidup.

Semoga terjawab ya neng :D

This post has 4 notes
  1. prahesty said: love it!
  2. rarasekar posted this