Habib Rizieq: Sebuah Wawancara, Sebuah Kesimpulan
Wah, ga nyangka banget. Sebulan yang lalu rasanya waktu H-1 sidang skripsi, animo masyarakat tentang isu FPI ga setinggi sekarang. Sekarang kayanya hampir semua tweet didedikasikan buat merayakan kebencian kita terhadap kekerasan FPI hahaha. Surprise, surprise.

Saya mau bikin graffiti arab dulu ya..
(photo from here)
Mungkin untuk sedikit berbagi dan ikut bersama animo masyarakat saat ini, dan berhubung skripsiku membahas tentang FPI (judulnya: Religious Fundamentalism in the Age of Globalization. Case Study: Front Pembela Islam as an Islamic Extremist Group in Indonesia), kali ini aku ga akan bercerita banyak tentang skripsiku sendiri, tapi aku bakal bercerita sedikit tentang pengalaman wawancaraku dengan Habib Rizieq..
Jadi waktu itu, udah beberapa kali bimbingan, Prof. Bob, pembimbingku tanya, “Kamu ga mau coba wawancara orang FPInya sendiri? Supaya skripsimu ini lebih objektif. Bukan jadi skripsi yang menjelek-jelekkan FPI. Hahaha.” Terus aku jadi mikir sendiri, bisa gitu ya wawancara Habib? Apa mungkin dia mau nyempetin waktunya yang sibuk dia pakai buat nyerang diskotek satu dan lainnya buat wawancara sama anak 21 tahun yang baca Qur’annya aja sangat terbata-bata ini? Haha, ah tapi nekat aja.
Akhirnya coba hubungin temen-temen dari media, temen-temen di KontraS, temen-temennya temen, pokoknya semua dihubungin sampai aku nyari nomer handphone Habib di Kaskus! Haha okay itu rada maksa sih, tapi ngerti lah ya perjuangannya. Akhirnya sih dapet, tapi ga tau kenapa pending semua, dua nomer yang aku dapetin itu. Apa smsku yang kepanjangan? Udah kaya sms-sms penipuan kejutan berhadiah sih emang panjangnya, haha tapi aku coba berkali-kali dengan berbagai versi, versi panjang, pendek, singkat, sok urgen, tetep ga ada yang lolos.
Tapi aku masih belum putus asa. Akhirnya aku mikir, ya udahlah coba aja langsung datengin Petamburan! Diserang, diserang lah! Haha lebay. Jadi aku merencakan buat ke Petamburan, dan tentunya, disarankan untuk membawa teman. Tadinya aku mau ngajak Nayaka, temenku yang punya pengetahuan yang cukup dalam tentang Islam. Ini sebenernya bentuk antisipasi, siapa tau Habib nanya-nanya atau ngetes ayat terus aku ga tau? Ada Nayaka, hahaha. Tapi.. sayangnya karena lagi musim UAS, Nayaka berhalangan. Mencoba menghubungi semua teman dan juga pacarku (yang sayangnya berhalangan juga), temenku Lukas Tambunan bersedia nemenin aku ke Petamburan. Lukas. Tambunan. Batak. Kurang nekat apa lagi coba? Hahaha.
Sedikit nyasar, tapi akhirnya kita sampai di depan Gang Petamburan. Suasanya lumayan menarik. Banyak orang-orang bermuka curiga nangkring di sana dan di sini, statusnya seperti diantara pengangguran dan mata-mata. Haha aku curiga mereka anggota FPI. Aku datang sama Lukas, aku pakai celana longgar hitam, baju tangan panjang longgar hitam, dan kerudung yang sok-sok dimodif jadi hijab namun gagal (biar ngetrend aja kaya hijabers jaman sekarang :p), sementara Lukas aku minta pakai baju koko dan celana agak ngatung beserta sendal jepit. Kita berharap penampilan kita ini udah sempurna jadi metode mimikri ke Petamburan. Eh… ternyata ga juga. Haha!
Keliatan linglung, akhirnya kita disamperin sama beberapa abang-abang, ditanya, “Mau kemana ya?” Terus aku dengan polos jawab, “Mau ke FPI, Bang. Ketemu Habib.” #azek Sok kenal banget sih nadanya hahaha, lumayanlah 2 tahun jadi pemain kabaret di Pasar Malam Kampus, berguna juga di dunia asli.
Si Abang nunjukkin jalan ke gang lebih dalam lagi menuju Markas FPI. Di depan Markas, itu banyak rumah rumah dan penghuni yang duduk-duduk santai di depan rumahnya. Lumayan heran sih aku, itu siang bolong, dan ga ada yang kerja. Apa udah kaya raya ya semua orang di daerah Petamburan? Haha, terus tiba-tiba Lukas mencoba untuk tidak kelihatan awkward, sok-sok nanya ke warga sekitar, “Saya mau ketemu Pak Habib, Pak.” Jedaang. Udah fail aja nih Lukas di awal-awal! Hahaha “Pak Habib”, dua panggilan yang bertumpuk! Hahaha. Langsung aku ambil alih, “Ini Pak, saya mau ketemu Habib. Mau wawancara untuk tugas kuliah. Dari Bandung.”
Dengan baik hati, si bapak yang tadi nongkrong depan Markas FPI, masuk, dan tiba-tiba keluar dan bilang, “Silakan masuk.”
Dan disitulah, ada seorang bapak-bapak berbaju kebon putih sedang duduk di lantai depan perpustakaan. Sesaat aku sama sekali ga ngenalin itu siapa. Ternyata pas lebih deket, oh itu Habib! Haha! Deg-degan sedikit. Takut salah gerak. Tapi aku berusaha PD aja, akhirnya pas kenalan, aku tentu ngasih gerakan salaman non-muhrim style (ga nyentuh Habib). Sip. I’m in the zone, alright. Haha.
Wawancara berjalan lancar, sepanjang kira kira 45 menit - 1 jam. Yang terekam di iPodku sih 45 menit, tapi setelah itu sebenernya masih ada pembicaraan sedikit, ketika Habib ngundang aku untuk datang ke Markas lagi untuk tabligh akbar hahaha.

Ini dia Habib Rizieq Shihab.
Agak susah untuk tulis semua hasil wawancara di sini, karena banyak juga yang agaknya kurang penting. Haha. Jadi aku bakal kasih highlight aja dari wawancaraku dengan Habib Rizieq:
1. Markas FPI itu sebenarnya rumahnya Habib. Sumpah demi 4JJI, rumahnya besar sekali. 4 atau 3 tingkat aku lupa persisnya, tapi mirip rumah-rumah di sinetron gitu bentuknya, DAN pas aku dateng, lagi ada perluasan, semacam ekstensi gedung baru. Duitnya dari mana aja ya dapetnya kalau bener pengakuan Habib di wawancara kalau kerjanya dari dakwah saja?
2. Habib udah ga punya bapak semenjak umur 11 bulan (apa mungkin ini punya dampak psikologis ke dirinya?) dan saat ini punya 7 anak, di mana anak-anaknya yang sudah dewasa sedang kuliah di luar semua, ada yang Mesir, ada yang di Yemen, dll.
3. Menurut Habib, Barat itu memang tidak semuanya salah, tapi banyak yang tidak sesuai dengan Syariat Islam, salah satunya demokrasi. Menurut Habib, demokrasi itu sangat berbeda dengan musyawarah di Islam. Kalau di demokrasi menurut Barat, mereka itu bisa “sepakat dalam kemaksiatan”, sementara di Islam, itu tidak mungkin terjadi. Kebayang ga, muka aku pas denger itu gimana? Hahaha.
4. Salah satu poin menarik dari Habib adalah mengenai Piagam Jakarta. Menurut Habib, Indonesia itu negara Islam. #jreng Kenapa? Karena, pada saat Piagam Jakarta ditolak oleh Soekarno, Soekarno tidak melibatkan para kaum nasionalis Islam, maka hasil rapat tersebut tidak valid, dan Pancasila yang valid adalah Pancasila yang tercantum dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945, karena disepakati oleh “seluruh founding fathers.” Dan juga karena kalimat pembuka UUD kita, “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa”, menurut Habib, tidak ada agama lain yang punya frase semacam itu, hanya Islam yang punya, maka jelas, bahwa Indonesia itu negara Islam. Dan ketika masyarakat Indonesia mengatakan bahwa Indonesia negara sekuler dan bukan negara berbasis Syariat Islam, masyarakat yang mengaku muslim lah yang telah berkhianat. Begitu kata Habib. Hmmm, “menarik” kan? Lanjut.
5. Aku nanya ke Habib, kalau emang anti-Barat, anti-Yahudi, kenapa Habib punya facebook? Hahaha. Dan Habib jawab, “Karena yang baik ya harus kita gunakan! Tidak semua dari Barat itu buruk.” Mulai bingung, ini gerakan ideologis atau oportunis ya?
6. Kutanya kepada Habib tentang tafsir Qur’an, memang semua itu mutlak kebenaran Allah? Habib jawab kalau ada 2 jenis tafsir, yang mutlak (tidak mungkin salah) dan yang multitafsir. Jadi sebenarnya ada suatu titik dimana ideologi FPI menerima kenyataan bahwa kebenaran itu relatif. Ha, tapi lucunya, ketika dia menjelaskan kebenaran yang multitafsir, tafsir tersebut harus sesuai dengan metode yang ada. Kalau tafsir liberal atau yang lainnya itu menurut FPI di luar koridor kebenaran, kira-kira parameter bener dan salahnya apa ya? “Ya Syariat Islam yang sejati!” kata Habib. Hah. Udah masuk ke debat teologis, susah dan tidak ada guna juga untuk berdebat di ranah ini..

Ga cuma di DPR aja yang tidur pas rapat ternyata..
(photo from here)
Dari berbagai jawaban dan penjelasan Habib, aku sampai di beberapa poin-poin kesimpulan,
1. Ketika kita berbicara tentang kebenaran, rasanya agak susah ya untuk menghakimi seseorang itu seutuhnya salah dan benar. Aku sempet mikir gini, bayangin, ketika seseorang dari lahir, percaya dan mengimani suatu keyakinan dengan teguh, hingga ia dewasa, dan juga ditambah dengan pembelajaran Islam dari Saudi Arabia, (pusat Wahabisme), dan tiba-tiba ia dikedepankan dengan orang-orang yang mempunyai pandangan tentang hidup, tentang Tuhan, tentang ayat, tentang Islam yang berbeda, siapa yang benar? Siapa yang punya otoritas untuk menyatakan yang satu itu lebih benar dari yang lainnya? Kita sering bilang kalau FPI itu suka main Tuhan sendiri, sedangkan kalau kita balik pemikirannya dan jadiin argumen tadi sebagai bumerang, kita juga sedang melakukan hal yang sama? Maka menurutku, kalau untuk permasalahan kepercayaan, disinilah letak nilai toleransi yang seharusnya dijunjung tinggi di negara kita. Walaupun mungkin FPI tidak merepresentasi Islam menurut aku, tidak seharusnya aku juga menjadi tidak toleran terhadap perbedaan tafsir yang ada. Namun, Ini sepenuhnya berbicara tentang hak memiliki kepercayaan ya.
Karena akan berbeda cerita ketika udah masuk ke dalam penggunaan kekerasan. Karena kita (seharusnya) tinggal di negara hukum, tindakan yang melanggar hukum memang harus diberikan sanksi yang tegas, apapun ideologinya, apapun kepercayaannya, apapun partainya, apapun kepentingan politik yang berada di belakangnya. Haha. Tapi menurutku, adalah suatu hal yang kurang bijak ketika kita membenci FPI karena orangnya semata. Yang harus kita lawan adalah kekerasannya, bukan agamanya, bukan tafsirnya. Karena manusia memang didesain sedemikian rupa untuk menjadi tidak sempurna sih menurutku, jadi kita memang tidak bisa selalu mengharapkan kesempurnaan dari kemanusiaan.
2. Kebetulan di akhir wawancara, 2 anaknya yang masih SD berbaju pramuka pulang dan menghampiri Habib untuk salim. (Btw, anak-anaknya cantik loh, kaya Sarah Azhari junior gitu hahaha) Nah disini aku ngeliat sesuatu yang sering aku lupain ketika liat Habib di tv, di youtube, di serangan-serangan FPI ke kedutaan AS, dll, yaitu suatu dualitas dalam kepribadiannya. Di satu sisi, Habib adalah ketua FPI yang tegas, bersuara lantang, orator yang cukup bisa membawa massa yang banyak untuk bergerak ke satu tujuan, seorang pemimpin agama yang disegani oleh pengikutnya, tentunya.. Tapi di sisi lain dia juga seorang Ayah, yang menyuruh anaknya untuk memberikan barang dengan tangan kanan, menyuruh anaknya untuk menyapu di daerah yang tidak terlalu berdebu supaya anaknya tidak batuk, seorang Ayah yang bisa bertutur lembut. Lucu sekali, menurutku. Hari itu aku seperti wawancara 2 orang yang berbeda, haha!
Tapi ya memang begitulah sisi yang kita, sebagai outsider, ga akan pernah bisa ngerti. Menurut kita, kok bisa sih pengikutnya ada segitu banyak? Kok bisa sih ada yang mau nurut diteriak-teriakin ideologi yang cukup radikal seperti itu? Kok bisa? Ternyata ya ini jawabannya, bahwa pemimpin yang cenderung bisa dikatakan “karismatik” mempunya caranya sendiri untuk menarik hati para pengikutnya di kesehariannya. Mungkin hampir sama dengan pemimpin-pemimpin radikal Islam di dunia, contoh Osama bin Laden. Dibenci seluruh dunia, tapi dicintai pengikutnya. Haha..
3. FPI di era Globalisasi ini sebenarnya ikut terombang ambing. Dari yang mencoba untuk menjadi ideologis dan idealis, akhirnya menjadi oportunis. Punya facebook account, sempat punya twitter juga, ditunggangi berbagai kepentingan politis dan juga ekonomi dari pihak luar maupun dalam. Rasanya unsur Islamnya sudah sangat memudar, menurutku. Karena apa lagi yang diperjuangkan oleh kaum radikal Islam seperti FPI? Perkembangan masyarakat dan peradaban jauh lebih cepat dari perkembangan tafsir mereka. Semua menjadi sulit untuk diperjuangkan, karena fondasinya menjadi tiada. Akhirnya? FPI menjadi kendaraan untuk para pemimpinnya mendapatkan keuntungan finansial dengan menggunakan agama dan ideologi Islam radikal, yang menawarkan kepastian Surga, sebagai fondasi kendaraan mereka.
Aku bahkan baca, juga denger sendiri tentang cerita tentang bagaimana FPI sering mendatangi diskotek dan bar-bar, meminta uang “keamanan”, supaya mereka tidak diserang oleh FPI. Bagaimana anggota FPI ketika mau ke Bali, minta untuk dijamu dengan kamar hotel dan pelacur. Bagaimana FPI digunakan untuk melindungi ruko yang memiliki permasalahan sengketa lahan. Sangat mengecewakan memang. Rasanya kalau untuk masalah ini, ideologi apa yang harus aku kasih toleransi? Tapi di sisi lain, FPI yang mana yang harus kita persalahkan untuk kasus-kasus seperti ini? Karena keanggotaan FPI itu ada 4 jenis; Habib, kaum intelektual dan mahasiswa, Laskar Pembela Islam, dan orang-orang kecil yang memiliki latar belakang pendidikan yang minim. Memang memalukan, mengaku paling beragama, tapi tingkah lakunya begitu murah. Sekarang pertanyaan selanjutnya, apakah FPI harus dibubarkan karena hal ini?
4. Menurutku, pertanyaan lebih cocok adalah, apakah FPI bisa dibubarkan? Karena ide itu tidak bisa mati. Ketika kita basmi satu, masih ada seribu. Gara-gara terlalu fokus dengan FPI, kita lupa dengan ormas-ormas Islam radikal lainnya. FUI, GARIS, FBR, dll. Bahkan Habib sendiri dalam wawancara, bilang, kalau FPI dibubarkan, silakan. Kita akan muncul lagi dengan nama berbeda, orang yang sama. Ga susah kan? Haha. Jangan sampai aja kita hanya berpikir short term, long term itu sangt penting karena punya kontinuitas. Kalau aku belajar spiritualitas sering diingkatkan supaya jangan tindakan-tindakan kita hanya bersifat reaktif dan emosional semata. Karena sebenarnya, tidak akan ada yang terselesaikan di masa depannya.

Apakah ini hasil yang kita inginkan?
(photo from here)
Nah, penyelesaiannya jadi harus gimana ya? #jengjeng Udah panjang terus gatau gimana menyelesaikannya hahaha, ya.. Menurutku sendiri sih, ada beberapa usulan amatir yang mungkin ga ada artinya dibanding research para analis politik Indonesia, hehe.. Beberapa adalah:
1. Salah satu alasan kelahiran FPI adalah momentum di mana adanya political and legal vacuum di Indonesia. Merasa negara tidak becus menegakkan hukum, akhirnya FPI main hukum sendiri dengan hukum yang berlandaskan Syariat Islam. Terlepas dari rumor yang bilang bahwa FPI itu didirikan atas inisiatif kepolisian Indonesia untuk jadi moral vigilantes, permasalahan utamanya adalah lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Kalau penegakan hukum itu ada dan kerangka hukum untuk memberikan sanksi kepada ormas yang menyiarkan kebencian seperti kata Prof. @sociotalker itu ada, tentunya ormas seperti FPI ga akan jadi isu yang krusial. (Halo, masih ada kemiskinan, kualitas pendidikan, kesejahteraan rakyat yang menurutku seharusnya menjadi prioritas negara)
Tapi di Indonesia emang agak lucu sih penegakan hukumnya, masalah narkoba aja ga bisa ditanganin secara baik, masalah ormas yang melakukan tindak kekerasan juga, apalagi permasalahan yang lebih besar ya? Jelas lah ya kenapa korupsi di negara kita ga kunjung beres..
2. Aku suka heran, banyak juga ya simpatisan FPI? Ga sedikit jumlahnya. Tapi kenapa bisa ada begitu banyak orang yang tertarik bergabung dengan FPI? Di skripsiku, aku pakai teori Islamist Radicalization Root Cause Model dari Clingendael Institute untuk menjelaskan kenapa organisasi Islam ekstrem seperti FPI bisa lahir, dan di dalam teori itu disebutin beberapa faktor; di dalam level makro ada keadaan politik, ekonomi dan budaya, globalisasi dan modernisasi, sementara di dalam level mikro ada identifikasi sosial, dimana ada peleburan antara identitas aku dengan identitas yang lebih besar seperti “identitas kelompok” atau ideologi, misalnya Rizieq Shihab bukan lagi melihat dirinya sebagai Rizieq, tapi Si Muslim, atau FPI. Juga ada interaksi sosial, dan yang juga sangat penting adalah relative deprivation.
Kebanyakan dari anggota FPI, terutama yang sering kita liat di jalan adalah anggota Laskar dan anggota dari orang-orang dengan latar belakang pendidikan yang rendah dan ekonomi yang lemah, bahkan Habib sendiri mengakui ini. Pejual asongan, pengangguran, bekas preman. Mereka yang secara ekonomi tidak terpenuhi kebutuhannya, mempunya tingkat deprivasi yang cukup tinggi karena tuntunan finansial, dan juga sosial, tinggal di Jakarta yang oh sangat keras kehidupannya, tiba-tiba bertemu dengan seorang yang dipercaya sebagai keturunan asli Nabi Muhammad SAW (Habib), dan diiming-imingi kepastian masuk Surga dengan bergabung dengan suatu organisasi? Ya bergabunglah mereka dengan penuh keyakinan!
Kalau negara mampu mensejahterakan lebih dari masyarakatnya, negara mampu menjamin pendidikan untuk warganya, menurutku jumlah masyakarat yang tertarik untuk bergabung dengan FPI pun akan menurun. Sepertinya. Semoga. Jadi, selain penegakan hukum, dan pengadaan kerangka hukum yang lebih tegas untuk memberikan sanksi pada ormas yang melanggar hukum, rasanya kesejahteraan juga salah satu unsur penting dalam permasalahan yg patut diberikan perhatian lebih.
3. Paling penting, paling fundamental, paling krusial, adalah pendidikan. Karena aku bukan tipe orang yang terlalu suka berpolitik, kalau di HI pun aku ga gitu tertarik dengan isu-isu yang sering disebut high politics (walaupun agak diskriminatif sih sebutan ini menurutku haha), menurutku salah satu penyelesaian yang paling penting adalah pengadaan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas. Values education. Sesuatu yang Indonesia tidak punya, yang kita punya itu PPKn, Pmp, Pkn, apapun lah modifikasi nama yang selalu ganti tiap tahunnya, yang mengajarkan pelajar Indonesia untuk menghafal Pancasila, dan memilih antara menolong atau menendang ketika ada nenek mau menyebrang jalan.
Pendidikan itu sangat penting. Pendidikan yang baik adalah aset bangsa Indonesia. Tapi bukan jumlah sekolah aja yang harus ditingkatkan, atau budget pendidikan yang sering dibangga-banggain sama pemerintah, tapi kualitas pendidikan itu sendiri juga harus ditingkatkan. Ketika hierarki IPA dan IPS dalam pendidikan yang menentukan mimpi seseorang, ketika aktualisasi diri sang anak terhalang oleh stigma masyarakat tentang arti kesuksesan, ketika pendidikan agama hanya untuk menghafal mana najis besar dan mana najis kecil, gimana bisa kita berharap penerus bangsa kita bakal kritis, menjunjung nilai-nilai moral, dan memiliki altruisme dalam dirinya? #dramatis #tapiserius
Eksistensi suatu bangsa itu sangat ditentukan oleh karakter yang dimiliki. Pendidikan karakter itu adalah mental investment, Soekarno dulu pernah menekankan. Kalau masyarakat kita punya karakter yang diinginkan oleh Pancasila; toleransi, bhinneka tunggal ika, kemanusiaan yang adil dan beradab, harusnya kalaupun ada perbedaan tafsir tentang agama, masyarakat kita akan jauh lebih beradab untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah, terutama di depan hukum. Mental untuk taat hukum harusnya juga bisa terbangun.
Oh, alangkah indahnya.

Sendal Swallow pun adalah luxury good untuk orang Indonesia.
(photo from here)
Sayang sekali kita masih jauh dari itu, tapi dengan adanya gerakan #IndonesiaTanpaFPI (walaupun aku lebih setuju dengan #IndonesiaTanpaKekerasan), kita harus bersukacita karena akhirnya suara masyarakat lagi menuju ke posisi yang seharusnya, menjadi suara yang kembali didengar oleh DPR, dan pemerintah Indonesia. Kalau pemerintah Indonesia ga bisa bangun sendiri, memang mungkin satu satunya jalan ya dibangunkan oleh masyarakatnya sendiri.
Sekian cerita tentang FPI. Maaf kalau panjang (padahal ga ada yang baca juga HAHA). Sebelum mengakhiri, ada 2 pesan yang pengen aku sampaikan, bahwa hanya dengan aksi unjuk rasa di Bunderan HI tidak akan menyelesaikan apa apa kalau tidak dibawa sampai ke proses politik. Bisa baca timeline twitternya @sociotalker dan @yanuarnugroho untuk informasi lebih lanjut, lebih dalam dan lebih berbobot. Hehehe. (Btw, yang sekarang aksi di Bunderan HI, dan biasanya ngomongin aktivis-aktivis HAM atau buruh yang sering aksi, ngerasain kan rasanya putus asa dan rasanya ga ada cara lain selain unjuk rasa? Ya itulah salah satu alasan kenapa aksi menjadi opsi bentuk protes kepada pemerintah :p),
Dan terakhir, kalau kita hanya bisa membenci FPI karena orangnya, ideologinya, ataupun tindakannya, kita ga ada bedanya dengan mereka, menurutku ya kita malah jadi kelompok ekstremis juga, ekstrem membenci FPI, kita menjadi seperti mereka. (maklum, anak buah Gandhi, pacifist sejati :p). Sebagai anak muda, lebih baik kita memulai gerakan-gerakan yang konstruktif dan positif untuk membangun karakter bangsa, ga harus langsung besar, mungkin bisa dimulai dari diri sendiri. :D #likeAAGYM
Kebetulan aku lagi ngerjain suatu proyek yang selaras dengan tujuan itu (kedip kedip ke @raragoe), tapi karena masih jauh dari rampung, mohon doanya supaya bisa cepat terlaksana yaa teman-teman!
Sekian & Terima kasih.
Terutama untuk yang udah baca sampai akhir.
Selamat Subuh.
This post has 171 notes
-
adityoap liked this
-
niniesrina liked this
-
aswanikumba reblogged this from rarasekar
-
goodmintonplayer reblogged this from rarasekar
-
gajahbinal liked this
-
lubencyescape liked this
-
wittletigglywiggly reblogged this from rarasekar
-
mdnmdnmdn liked this
-
dirrtytalk liked this
-
thiagalerija liked this
-
thiagalerija reblogged this from rarasekar
-
bennowidagdo liked this
-
wateranddiamond liked this
-
rwilliam reblogged this from rarasekar
-
senorow reblogged this from rarasekar
-
ikeniken liked this
-
gabrisia liked this
-
pina-bunan reblogged this from rarasekar
-
pina-bunan liked this
-
avezia liked this
-
fixmoai liked this
-
fixmoai reblogged this from rarasekar
-
anodcaustic reblogged this from rarasekar
-
mencaridita reblogged this from rarasekar
-
mencaridita liked this
-
agoesisyourlord reblogged this from rarasekar
-
chisaa liked this
-
rhythmofnight reblogged this from rarasekar
-
amelyaoktavia liked this
-
shirebel liked this
-
wittletigglywiggly liked this
-
adhistisciach liked this
-
sigit-kurniawan reblogged this from rarasekar
-
sigit-kurniawan liked this
-
hazeltomb liked this
-
riani reblogged this from rarasekar and added:
kroco2/tukang2 pukul malah bikin...jadi tambah runyam
-
puricempaka reblogged this from rarasekar
-
ydnearbifila liked this
-
ragilliarach liked this
-
rousyan reblogged this from rarasekar
-
rousyan liked this
-
perfectsunday reblogged this from rarasekar
-
lolakaban reblogged this from rarasekar
-
armeyn liked this
-
misterdison liked this
-
lovedbywords reblogged this from rarasekar
-
quoi-de9 reblogged this from rarasekar
-
rkholil reblogged this from rarasekar
-
imagelluny liked this
-
prajuritketiga liked this
- Show more notes