Kicau Kantor (2)
- R: Si itu gamau magang di kantor, na?
- N: Ga euy.. Soalnya dia sakit.
- R: Sakit apa?
- N: Sakitnya teh kompilasi.
- R: Edan euy kaset kali kompilasi.
- N: ?
- R: Komplikasi meureun! Hahaha
Kicau Kantor
- S: Eh, anak lo kelas berapa?
- F: Udah SD, kelas 1.
- S: Dia punya akte kelahiran ga?
- F: Ya iyalah punya!
- S: Wah, anak gue belom punya nih.. Padahal udah mau masuk SD.
- P: Jis, berarti anak lo stateless nyet! Hahaha
Submisif
- R: Ben.. laptop aku crash terus nih. Gimanaa doong, ga bisa ngedit foto sama sekali? Huhu..
- B: Cium laptopmu.
- R: Okay
Hari ini aku belajar… (II)
kalau aku masih sangat melekat dengan kenyamanan.
Jadi begini ceritanya, pernah ga sih ngerasain kesel karena sesuatu tidak berjalan seperti yg kamu mau? Atau mungkin karena sesuatu yang seharusnya bukan jadi tanggung jawab kamu, malah dibebankan oleh orang lain yg jadinya menekan diri kamu untuk mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiranmu?
Seringlah ya pastinya. Aku sih sering. Haha. Dan karena aku punya pacar yang kerjaannya 11-12 sama K alias preaching tentang “pikiran”, “meditasi”, “mempertanyakan segala hal yang terjadi”, haha, Ben selalu bilang, coba kamu observasi perasaan kamu. Itu udah meditasi sejati. Yasudah, aku coba mengamati perasaan kesel aku ini. Perasaan ga nyaman. Perasaan yang rasanya pengen aku tendang jauh-jauh dan ga dateng lagi. Tapi tentunya ga mungkin. Haha.
Akhirnya, sesi perjalanan pulang bersepeda yang biasanya aku pake jadi sesi ‘biking meditation’ (konsep yang rada maksa, terus aku bikin sendiri pula.. intinya bersepeda dengan penuh kesadaran :p), aku ganti hari ini dengan sesi mengamati perasaan. Aneh emang ketika aku bener-bener mencoba mengobservasi perasaan kesel itu. Awalnya itu kerasa rasa itu menguasi diri. Rasanya kaya ada awan panas yang menuhin daerah dada. Seakan mau meledak tapi ga bisa. Menggumpal tapi panas..
Setelah itu, aku coba observasi. Coba anggep perasaan itu bukan bagian yang menyatu dengan si Rara. Aku coba tanya, kenapa ya aku kesel? Oh karena aku ga suka diginiin. Karena itu ga sesuai dengan keinginan aku. Karena hal yang baru aja terjadi aku anggep sebagai sesuatu yang merugikan aku. Karena ini, karena itu. Karena ooh.. karena ini. Dan begitu banyak rantai kesadaran yang muncul ketika lagi mencoba mengobservasi perasaan kesel itu. Rasanya cuma satu, ‘kesel’, tapi pikirannya bisa jalan-jalan ke mana-mana. Kalau dalam keadaan ga sadar, jelas.. Pikiran bisa memperburuk perasaan itu. Dia malah mendistorsi realita itu sendiri dengan mengait-ngaitkan dengan masa lalu, keinginan di masa depan, ego, dan masih banyak lagi.
Tapi ketika kita memberi jarak untuk mengamati perasaan dan pikiran yang menjalar, ternyata lama-lama perasaan itu ilang. Perasaan apapun, setelah aku rasain sendiri, itu ga ada yang selamanya. Dia ada dan tiada. Begitu seterusnya. Jadi sebenernya, kenapa aku harus begitu tergantung dan melekat dengan rasa-rasa yang impermanen itu ya? Kemelekatan aku dengan rasa-rasa ini jelas karena keakuan yang sangat kuat.. Padahal ‘aku’ ini juga bakal mati, bakal jadi jasad terkubur di tanah beberapa puluh taun lagi. Mungkin diinget, mungkin juga dilupain orang. Kalaupun orang inget aku, gak akan inget setiap detik juga. Haha. Aku oh aku.. Kapan si aku ini bisa sadar kalau semua ini ga ada yg abadi di dunia? Supaya si aku ini bisa melepas dari kemelekatan dengan apapun, karena jujur aku ngerasain banget betapa kemelekatan dengan benda, harta, pikiran, keinginan, harapan, masa lalu, dan keakuan itu sumber malapetaka betul..
Kesengsaraan harian aku yang rasain, rasa kesel yang terkadang masih muncul walaupun menurutku udah jauh berkurang dibanding beberapa tahun lalu di mana darah Madura aku masih kentel banget haha, dan rasa kecewa yang masih sulit untuk dihindari, jelas adalah manifestasi dari omongan K, bahwa arti dari kesadaran dan pengertian yg sebenarnya itu tidak ada yg gradual. Kesadaran itu harus sekarang, atau tidak ada.
“Understanding is now or never; it is a destructive flash, not a tame affair; it is this shattering that one is afraid of and so one avoids it, knowingly and unknowingly. Understanding may alter the course of one’s life, the way of thought and action; it may be pleasant or not, but understanding it a danger to all relationship. Without understanding, sorrow will continue. Sorrow ends only through self-knowing, the awareness of every thought and feeling, every movement of the conscious and of that which is hidden. Meditation is the understanding of consciousness, the hidden and the open, and of the movement that lies beyond all thought and feeling.”
Terima kasih K atas tamparannya hari ini. Selamat malam.
Hari ini aku belajar… (I)
kalau aku bukan tipe orang yang bisa kerja kantoran. Haha, lalu maumu apa?
Pusing. Sebenernya setelah berkecimpung di dunia kerja, akhirnya aku langsung mikirin lagi apa itu passion, apa cita-citaku, apa itu bahagia (keukeuh, tema hidup aku ini terus hahaha), dan pertanyaan-pertanyaan yg rasanya sepele pas ditanya waktu kita masih kecil, tapi rasanya kalau ditanyain sekarang, rasanya bikin hati berdegup, nafas memendek, dan kepala tiba-tiba vertigo. Lebay.
Semakin kesini, rasanya tujuan hidup aku justru semakin abstrak. I just want to work/fight for a noble cause. Muluk gila sih. Haha berasa Mother Theresa. Tapi sebenernya yang aku pengen cuma bantu orang. Tapi kalau gitu, semua pekerjaan sebenernya punya perannya masing-masing untuk bantu orang dong? Iya sih. Ea. Jadi bingung. Maka dari itu, sampailah aku pada titik di mana aku mempertanyakan definisi passion itu sendiri.
Di inbox tumblrku pernah ada yang nanya, passion itu sebenernya permanen ga sih? Apa ada kesempatan untuk berubah seiring dengan waktu, keadaan dan perasaan?
Menurutku, passion itu seharusnya yang menjadi drive kita bekerja untuk sesuatu, berjuang untuk sesuatu. Bentuknya sesungguhnya sangatlah abstrak, dan terkadang kita ga bisa secara gamblang mendefinisikannya dengan kata-kata. Ia menjelma dalam diri seperti energi. Tugasnya untuk menghidupkan, membangunkan.
Kalau ia tidak bisa menghidupkan atau membangunkan, mungkin itu bukan passion? Tapi ga tau juga sih, ini aku otoy tingkat Zeus haha ini menurut pandanganku aja.
Passionpun seperti konsep Takdir di Islam (naonsih) ada 2 jenis, passion kecil dan passion besar. Hahaha sumpah ini ga jelas banget nulis apa. Maklum lagi nunggu verifikasi data kerjaan, sembari nunggu mari nulis ngawur saja. Haha..
Passion kecil itu bermanifestasi dalam bentuk keinginan-keinginan yg sifatnya tangible. Dia berbentuk, dapat kita raih, membutuhkan media tertentu dalam pencapaiannya, dan biasanya ada kecenderungan untuk hanya bertahan dalam jangka yg pendek (karena ia mudah terganggu dengan faktor eksternal maupun internal, mungkin galau, labil, malas, cemburu, iri, tuntutan orang tua, sugesti yang direpetisi, dan lain lain). Sehingga si passion kecil ini biasanya punya kecenderungan untuk berubah, terutama media dalam pencapaian passion itu.
Contohnya aku dan fotografi. Aku dan menyanyi, piano, musik, menggambar, dan segala bentuk ekspresi seni. Kenapa? Rasanya dulu waktu SD passionku untuk musik terutama Jazz begitu menggebu-gebu, sekarang? Biasa aja. Haha. Apalagi untuk jadi musisi. Memang terpengaruh faktor eksternal sih, seperti punya ade yang super jenius di bidang musik, dan cape juga dibanding-bandingin di mana bener sih aku dodol banget, haha, terus jadi males, demotivated, dan lain-lain. Udah deh. Haha. Kalau fotografi, kadang rasanya semangat banget foto, kalau liat apapun di depan mata sok sok ngerasa itu materi foto jurnalistik banget, tapi ya cuma sekedar sibuk dengan pikiran. Kameranya sih, ketinggalan di kos. Haha fail. Atau kadang kalau lagi kerja foto suka banget, rasanya subliminal, widih, jadi seakan-akan menyatu dengan objek yang difoto, sehingga bisa langsung milih angle-angle foto tanpa perlu rasionalisasi terlebih dahulu, memakai perasaan kesatuan itu. Tapi pas bagian editing, ngurusin frame, dll, rasanya males bgt. Cape harus kesana kesini sendiri, terutama ga ada Ben. Haha, passion yang labil. Atau aku aja deng yang labil..
Dan yang kedua, adalah passion besar. Hahaha (ngakak dulu saking otoynya tulisan ini). Passion besar itu aku definisikan sebagai suatu tujuan yang ingin kita capai, tapi bukan untuk pencapaian pribadi, tapi untuk kebajikan. Alasan ilahiah, transendental, mulia, dan istilah-istilah hippie lainnya, adalah yang mendasari passion ini. Hasilnya tidak akan instan, bahkan seringkali tidak berbentuk, kepuasannyapun hadir tanpa harus terkungkung oleh dimensi waktu dan ruang. Dia adalah Energi yang senantiasa hidup, dan menghidupkan.
Mungkin ini yang sedang aku gali, mencari passion besar ini. Mungkin secara teoritis aku udah baca di banyak buku, kitab agama, ajaran esoteris, meditasi, orang-orang inspiratif, tapi rasanya passion besar itu selayaknya ditemukan dan dirasakan sendiri. Sempet mikir apa aku hidup selibat aja? Jadi bhikkuni? Haha labil. Ini salah satu efek baca Supernova-nya Dee. Atau mungkin jadi terapis? Bikin wellness center di Bandung dan kelas yoga malam tiap Kamis malem? Lupain semua ilmu HI yang udah dipelajari? (udah agak lupa sih emang hahaha) Ke India ambil kelas singing for healing sama Swami-Swami random, ala ala the Beatles? Gabung Hare Krishna? Bikin tato Hand of Fatima di leher? Haha udah mulai ga jelas.
Passion besarku belum sebesar passion kecilku saat ini. Passion kecil seringkali menuntut aku untuk merasionalisasi ini dan itu, sebelum aku memilih ini dan itu. Terutama masalah pekerjaan. Passion kecil yang seringkali hanya manifestasi pemuasan si ego menjadi penghalang buatku bener-bener dengerin apa yang aku mau. Kalau kata FMS, hati nurani. Kalau kata temanku yg Sufi, to unveil the heart, I must.
Permasalahannya adalah passion kecil ini seringkali cuma pengen ngikutin arus, ia mendengar ke luar, ia tidak tegak, ia hanya mencari nyaman dalam kisruhnya hidup. Sedangkan passion besar, akan membawaku melawan apapun keadaan yang akan aku hadapi, baik susah maupun mudah, baik indah maupun sengsara.
Tuh kan. Kesadaran intelektual ini udah ada. Haha. Tapi emang kesadaran yang paling utama adalah kesadaran di tingkat pengalaman.
Oh, passion besar. Aku harap kamu bisa tuntun aku ke pintu terbaik.
Sementara ini, aku akan mencoba memaknai apapun yang sedang aku kerjakan, aku pilih, bahwa pekerjaan apapun (yang halal dan tidak menindas mereka yang kecil) mempunyai perannya sendiri dalam membantu orang..
Amin.
-
It’s been two weeks since I moved to Jakarta, and unlike many other people who always complain about leaving Bandung for Jakarta, I, to be honest, am enjoying my stay here. Hahaha. I’m sure it’s not because of the city - bearing in mind the horrible traffic and the terribly polluted air, but I think it’s more because I am loving my job and my office so much that I totally forgot that I’m living in Ben’s most hated city. :p
I’ve been really tied up with work, lately. Nonetheless, I’m learning so many new things every single day at the office, and luckily I’m doing things that are still very much related to International Relations. Something that most IR students tend to lose when we start working, hehe. But since I’m working at the Research Bureau and the International Desk, my job mostly requires me to become a wordsmith. I never thought that I’d end up working as a writer/researcher (cause I really am not confident with my writings and I am more of a field work person), but what’s the harm in trying, right? I always tell Ben that I’m not (and never will be) a writer-type of person, but he always says to me that whatever work I’ll be dwelling in, it will require me to write no matter what. Dayum. So, here I am, on a Saturday night, instead of continuing my unfinished writing for Monday, I am writing a tumblr post accompanied by Feist’s new album. Haha.. Oh yeah, you’re a great researcher alright.
Talking about Jakarta, I can never feel at home in this city. I’m not sure why, but this city always feels foreign to me. Everything I see, passes by like a scene, moving from one frame to another, in a fast pace, representing the unknown, manifesting in a self-contradicting reality, unfamiliar, strange. Not home.
-
I don’t know what I’m writing here, and I don’t even think I can finish the previous paragraph.
I miss Ben.
Sometimes I cry in my dreams because I remember the idea of our warm hugs and kisses but I can’t remember how they feel like.
Sometimes I cry during our Skype dates because I feel so happy to see his face but also heartbroken cause he’s not really with me.
Sometimes I listen to our favorite songs and wish Ben could sit next to me and together sing our hearts out.
Sometimes I laugh remembering our stupid moments and wish Ben could be here and laugh with me too.
Sometimes I know how broken I am inside and wish I could tell him how unwell I am but then I start convincing myself that this is life, and life is suffering.
Sometimes I wish I could stop time so that neither pain nor happiness exist,
and I could just be in the moment, in nothingness.

Miss you, Ben.
2 more years :)
Hati Kecil
Hati kecil yang bersedih tak pernah bisa berbohong pada Rasa. Penuh harap, ia terbangun dari gelapnya mimpi buruk yang terbelit dalam satuan waktu tak terukur, tersungkur. Melihat segalanya adalah nyata sebagaimana dia mengada. Adakah cara untuk memotong jarak dan waktu, ketika dalam diamnya doa, ia hanya dapat berjumpa dengan rindu?
Hati kecil berjalan menutup pintu,
kembali mencari tenang dalam air mata yang membisu.
Franz Schubert - Trio No. 2 in E-flat major for piano, violin, and violoncello, D. 929
(press play then pause to let the song load first)
This beautiful piece, Trio No. 2 in E-flat major for piano, violin, and violoncello, D. 929 by Franz Schubert was composed for the engagement party of Schubert’s school-friend, Josef von Spaun.
I often wonder why I am immensely comfortable with Rara, I don’t want to use the word ‘love’ here because if I define love based on my definition of love which is to no longer have a hint of selfishness in it, no fear, no dependance, no jealousy nor possessiveness, then certainly what I am feeling towards Rara is not love.
Yet I know that I am immensely comfortable with her. Is it because at most I consider her as my best friend? A friend that causes me to be at ease, relaxed, secure, safe, unworried, contented. A friend that causes me to be happy? But why?
And then I understood that it is because of life.
It is because she has a deep interest in life, life as a whole, life as a continuity and because life is an ever changing process, so too will our discussions, our thoughts, and ultimately our friendship will be an ever changing process.
Our relationship is a movement, it is un-static, it is an evolution of life in itself. It is to grow wise together thru accumulated shared experiences of sadness, anger, unfulfilled expectations and ultimately thru shared happiness.
I do not hope for a better future, because the joys of the multitude is here in the present.
Revel in it I must.
This is why I metta you :p
- Cover of Something About Us - Daft Punk
Trying out soundcloud for the first time. This is a cover of Daft Punk’s Something About Us. Hahaha, zzz..